Rabu, 28 Januari 2015

NASIHAT ISTIMEWA DAN GENERASI MULIA

NASIHAT ISTIMEWA DAN GENERASI MULIA

Kalimat indah berisi mutiara nasihat dari para pendahulu kita dari kalangan orang-orang saleh begitu melimpah. Salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh seorang ulama dari kalangan tabi’in, Malik bin Dinar rahimahullah berikut ini.
Beliau rahimahullah menuturkan:
كَانَ اْلأَبْرَارُ يَتَوَاصَوْنَ بِثَلاَثٍ: بِسَجْنِ اللِّسَانِ، وَكَثْرَةِ اْلاِسْتِغْفَارِ وَالْعُــزْلَةِ.

Dahulu orang-orang saleh saling menasihati dengan tiga perkara: memenjarakan lisan, memperbanyak istighfar dan menyendiri.” [al-‘Uzlah wal-Infirad, Ibnu Abi Dunya tahqiq Masyhur Hasan Alu Salman]

PERTAMA: Memenjarakan Lisan.
Penjarakanlah lisan anda dari perkataan mubah yang tidak ada manfaatnya, terlebih dari perkataan yang dilarang dan diharamkan di dalam Islam.

KEDUA: Memperbanyak Istighfar.
Perbanyaklah istighfar. Sungguh beruntung seorang hamba yang catatan amalnya terdapat limpahan istighfar. Tidak akan merugi seorang hamba yang terus membasahi lisannya dengan istighfar kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

KETIGA: Menyendiri.
Menyendirilah dari tengah manusia yang tidak baik dan jauh dari agama agar tidak tertular keburukan mereka. Bersahabatlah dengan orang-orang saleh yang dapat menularkan kesalehannya kepada anda dan membimbing anda menuju cahaya iman dan takwa.

Semoga kita dimudahkan untuk mengamalkan nasihat yang baik dari orang-orang saleh dari generasi mulia. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM
0556288679

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI (2)

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI
[bagian ke-2 dari 2 tulisan]
Di antara kiat-kiat menggapai kebahagiaan hakiki adalah:
[5]. Mohon agar diberi kelapangan dada.
Di antara sifat orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan ialah selalu memohon kelapangan dada kepada Allah, sebagaimana yang telah dicontohkan nabi Musa ‘alaihissalam. Firman-Nya:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ.
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. (QS. Toha: 25)
Dan Nabi kita telah Allah berikan kenikmatan dengan kelapangan dada. Firman-Nya:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ.
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (QS. al-Insyirah: 1)
Kelapangan tersebut akan digapai dengan mengilmui Islam dan mengamalkannya. Allah al-Aziz azza wa jalla berfirman:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلاَمِ.
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (QS. al-An’am: 125)
Bagi seorang belum merasakan kelapangan dada dengan Islam, hendaklah ia banyak-banyak introspeksi dan evaluasi diri.
[6]. Berbuat baik kepada sesama.
Ini merupakan perkara yang dicintai. Orang yang melakukannya begitu dicintai di tengah manusia. Dengan demikian, tentu saja ia bahagia di tengah-tengah kaumnya. Sebagai ganjaran dari Rabb-nya, ia senantiasa mendapatkan kebersamaan dengan-Nya. Allah al-Hakim berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl: 128)
[7]. Tidak panjang angan-angan.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullahu menuturkan: “Kehidupan dunia ini pendek, maka jangan engkau perpendek lagi dengan kesedihan dan keburukan.”
Karena manusia di dunia adalah sementara, panjang angan-angan yang tidak pernah tercapai akan membuat sesak dan sempit hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.
Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang asing atau musafir yang lewat. (HR. Bukhari)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadis di atas, “Maksudnya adalah zuhud di dunia dan tidak bersandar kepadanya, sebab sepanjang apa umurmu pasti engkau akan berpisah dengan dunia.” (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah)
[8]. Yakin bahwa kebahagiaan hakiki ada di akhirat.
Perhatikanlah dua firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:
Pertama:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ اْلآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. al-‘Ankabut: 64)
Kedua:
وَأَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِيْ الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ.
Adapun orang-orang yang berbahagia, tempat mereka adala di surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhan-mu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (QS. Hud: 108)
Kedua ayat di atas, demikian pula ayat-ayat yang lainnya, menjelakan bahwa kehidupan yang hakiki bagi seorang muslim adalah di akhirat kelak. Adapun dunia adalah tempat persinggahan sementara. Jika demikian, jadikanlah dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan kampung akhirat yang kekal abadi.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mewujudkannya. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI (1)

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI
[bagian ke-1 dari 2 tulisan]
Setiap orang pasti ingin hidup bahagia, terlepas dari cara yang ditempuh dalam mewujudkannya. Namun realitanya tidak sedikit dari manusia yang menyimpang dari jalan yang lurus dalam menggapai kebahagiaan, di mana di antara sebabnya karena mereka terbuai oleh kebahagiaan dunia yang semu lagi menipu.
Sebagian mereka melihat bahwa kebahagiaan itu ada pada harta, yang lainnya beranggapan ada pada tahta, sebagiannya lagi memandang ada pada prestasi dan popularitas. Sehingga setiap mereka berusaha mewujudkan apa yang mereka impian menjadi sumber kebahagiaan. Siapa yang paling giat, itulah yang paling tersesat dan paling jauh dari tuntunan Agama.
Lantas, dimanakah sebenarnya kebahagiaan hakiki itu berada, dan apa saja kiat-kiat untuk menggapainya? Jawabnya, ada pada agama Islam. Adapun kiat-kiatnya, bisa dibaca pada poin-poin singkat di bawah ini. Semoga bermanfaat.
○ Kiat-Kiat Menggapai Kebahagiaan Hakiki
Dalam menggapai kebahagiaan harus meniti jalan yang telah digariskan. Seorang yang mengharapkan kebahagiaan namun enggan meniti jalannya, maka tiada mungkin ia dapat menggapainya.
Seorang penyair berkata:
تَرْجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا  إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
Engkau berharap keselamatan namun enggan meniti jalannya....
(Ketahuilah) perahu itu tidak pernah bisa berlayar di daratan
Berikut beberapa sebab datangnya kebahagiaan hakiki yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan kekal abadi di dalam surga Allah ta’ala.
[1]. Beriman kepada Allah dan beramal shalih.
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata (al-Wasa’il al-Mufidah): “Sebab teragung dan mendasar untuk menggapai kebahagiaan adalah beriman dan beramal shalih.” Kemudian beliau membawakan firman Allah ar-Rabb ta’ala berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً.
Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik. (QS. an-Nahl: 97)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsirkan kehidupan yang baik dengan kebahagiaan. Mujahid dan Qotadah berkata: “Tiada kehidupan yang baik bagi seseorang kecuali kehidupan di surga.” (Tafsir Ibn Katsir)
[2]. Beriman kepada takdir Allah, yang baik dan yang buruk.
Ketahuilah, apa yang akan menimpamu maka tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan mungkin menimpamu. Orang yang seperti ini berarti ia beriman kepada takdir Allah. Dan beriman kepada takdir Allah merupakan rukun iman yang dapat membawa kepada kebahagiaan.
Allah berfirman seraya menjelaskan buah keimanan kepada takdir-Nya:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيْرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوْا بِمَا آَتَاكُمْ.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. al-Hadid: 22-23)
[3]. Menuntut ilmu syar’i.
Cukup satu hadits berikut untuk menjelaskan hal ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللَّهِ: يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.
Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah, mereka membaca al-Qur'an dan mempelajarinya, melainkan ketenangan akan turun kepadanya, rahmat Allah akan meliputinya, malaikat mengitarinya, dan Allah memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)
Dengan ilmu, seorang tahu hikmah di balik musibah, tahu bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah dengan adil, tahu bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan kembali ke agama, dan tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah di akhirat kelak, sehingga tidaklah ia menjadikan dunia ini melainkan sebagai sarana untuk menuju akhiratnya.
[4]. Memperbanyak zikir kepada Allah dan membaca al-Qur'an
Firman-Nya:
أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ.
Ingatlah, hanya dengan berzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)
Ulama berkata: “Seutama-utama zikir adalah tilawah kitabullah ‘azza wa jalla.” (Tilawah al-Qur’an memiiki dua makna: membaca dan mengamalkannya)
Muslim yang istiqomah berzikir kepada Allah akan bahagia dan tentram hatinya. Sebaliknya, orang yang enggan mengingat-Nya akan sempit kehidupanya. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Toha: 124)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari berzikir kepada Allah, di antaranya dapat mengusir kesedihan dan gundah gulana dari hati serta mendatangkan kesenangan, kebahagiaan, dan kelapangan dada. (Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid)
[bersambung insya Allah]
Semoga dimudahkan untuk menggapainya. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

SYARAT KALIMAT SYAHADAT

SYARAT KALIMAT SYAHADAT

Syarat kalimat syahadat atau kalimat tauhid ada tujuh. Kalimat ini tidak akan bermanfaat kecuali ketujuh syarat tersebut terpenuhi. (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah, Shalih al-Fauzan)

Ketujuh syarat tersebut terkumpul dalam dalam sebuah bait syair berikut ini:

عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ  مَعَ مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا

Yaitu Ilmu, yakin, ikhlas, jujur (tulus), cinta, tunduk, dan menerimanya

Sebagian ulama menambahkan satu syarat lagi sehingga jumlahnya menjadi delapan. Dalam sebuah bait syair disebutkan:

وَزِيْدَ ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا  سِوَى الإِلَهِ مِنَ الأَنْدَادِ قَدْ أُلِهَا

Ditambah syarat kedelapan yakni engkau kufur dengan tuhan-tuhan yang diagungkan selain Tuhan yang Esa

Berikut perincian ringkas ketujuh syarat tersebut:

◇ Pertama: Ilmu. orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus memahami maknanya. Lawannya adalah al-jahlu (tidak tahu). Orang yang mengucapkan laa ilaaha illaAllah dengan lisannya namun ia tidak memahami makna dan kensekuensinya maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barang siapa yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah niscaya ia masuk surga.“ (HR. Muslim)

◇ Kedua: Yakin. Maksudnya orang yang melafazhkan syahadat harus meyakini kebenaran ucapannya itu. Sebagai lawannya adalah bimbang dan ragu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّيْ رَسُوْلُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya diriku adalah rasul utusan Allah, tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan dua kalimat tersebut tanpa bimbang ragu melainkan ia akan masuk surga. (HR. Muslim)

◇ Ketiga: Ikhlas. Seorang yang menucapkannya harus mengikhlaskan atau memurnikan agama ini karena Allah ta’ala semata. Sedangkan lawannya adalah kesyirikan. Firman-Nya:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ. أَلاَ لِلَّهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. az-Zumar: 2-3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ.

“Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan la ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari hatinya.“ (HR. Bukhari)

◇ Keempat: Jujur (tulus). Lawannya adalah dusta. Syarat ini diambil dari sabda shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Siapa yang berkata laa ilaaha illaAllah dengan jujur (tulus) dari hatinya niscaya ia masuk surga.“ (HR. Ahmad)

◇ Kelima: Cinta. Yaitu kecintaan yang menghilangkan lawannya yang berupa kebencian. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid ini harus mencintainya dan mencintai orang-orang yang mencintai kalimat ini. Adapun orang yang tidak mencintainya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.

◇ Keenam: Tunduk. Yaitu berserah diri dan patuh dengan perbuatan atas peribadatan kepada Allah ta’ala.  Lawannya adalah berpaling dan meninggalkan. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid namun tidak tunduk dan patuh dengan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.

◇ Ketujuh: Menerima. Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik.

Demikianlah penjelasan ringkas seputar kalimat laa ilaaha illaAllah. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

HASAD DI MATA AL-QURTHUBI

HASAD DI MATA AL-QURTHUBI

 
Ada beberapa untaian kalimat bagus al-Qurthubi berkaitan dengan hasad. Berikut di antaranya:

[1]. Jerih Payah Si Pendengki

وَقِيْلَ: اَلْحَاسِدُ لاَ يَنَالُ فِي الْمَجَالِسِ إِلاَّ نَدَامَةً، وَلاَ يَنَالُ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ لَعْنَةً وَبَغْضَاءَ، وَلاَ يَنَالُ فِي الْخَلْوَةِ إِلاَّ جَزَعاً وَغَمّاً، وَلاَ يَنَالُ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ حُزْناً وَاحْتِرَاقاً، وَلاَ يَنَالُ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً وَمَقْتاً.

Dikatakan: orang hasad ketika di majelis tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, di sisi malaikat tidak mendapatkan apa-apa kecuali laknat dan kebencian, ketika menyendiri tidak merasakan melainkan keluh kesah dan kesedihan, di akhirat tidak mendapatkan melainkan kesedihan dan rasa panas, dan tidaklah ia mendapatkan dari Allah kecuali jarak yang semakin jauh dan kebencian.

[2]. Hasad Dosa Pertama Di Langit dan Di Bumi

وَالْحَسَدُ أَوَّلُ ذَنْبٍ عُصِيَ اللَّهُ بِهِ فِي السَّمَاءِ، وَأَوَّلُ ذَنْبٍ عُصِيَ بِهِ فِي الأَرْضِ، فَحَسَدَ إِبْلِيْسُ آدَمَ، وَحَسَدَ قَابِيْلُ هَابِيْلَ.

Hasad merupakan dosa pertama Allah didurhakai di langit dan dosa pertama Allah didurhakai di bumi, (di langit) Iblis hasad kepada Adam dan (di bumi) Qobil hasad kepada Habil.*

[3]. Menantang Allah

قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: بَارَزَ الْحَاسِدُ رَبَّهُ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ: أَحَدُهَا: أَنَّهُ أَبْغَضَ كُلَّ نِعْمَةٍ ظَهَرَتْ عَلَى غَيْرِهِ. وَثَانِيْهَا: أَنَّهُ سَاخِطٌ لِقِسْمَةِ رَبِّهِ، كَأَنَّهُ يَقُوْلُ: لِمَ قَسَمْتَ هَذِهِ الْقِسْمَةَ؟ وَثَالِثُهَا: أَنَّهُ ضَادَّ فِعْلَ اللهِ، أَيْ إِنَّ فَضْلَ اللهِ يُؤتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ، وَهُوَ يَبْخَلُ بِفَضْلِ اللهِ. وَرَابِعُهَا: أَنَّهُ خَذَلَ أَوْلِيَاءَ اللهِ، أَوْ يُرِيْدُ خِذْلاَنَهُمْ وَزَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْهُمْ. وَخَامِسُهَا: أَنَّهُ أَعَانَ عَدُوَّهُ إِبْلِيْسَ.

Sebagian orang bijak berkata: Orang hasad menantang Rabb-nya dalam lima hal: pertama: ia membenci setiap kenikmatan yang ada pada selainnya. Kedua: ia membenci pembagian Rabb-nya, seakan-akan ia berkata: “mengapa Engkau membagi seperti ini?” ketiga: ia melawan keputusan Allah, yakni Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, tapi ia malah kikir akan karunia Allah. Keempat: ia mencampakkan para wali Allah, ia ingin meninggalkan mereka dan berharap nikmat itu hilang dari mereka. Kelima: ia menolong musuh Allah yakni Iblis (laknatullah ‘alaihi).

[4]. Musuh Bagi Nikmat Allah

Ketika menafsirkan surat al-Falaq beliau menutup tulisannya dengan perkataan:

وَجَعَلَ خَاتِمَةَ ذَلِكَ الْحَسَدَ تَنْبِيْهاً على عِظَمِهِ، وَكَثْرَةِ ضَرَرِهِ، وَالْحَاسِدُ عَدُوُّ نِعْمَةِ اللهِ.

Allah menjadikan penutup surat tersebut berkenaan dengan hasad sebagai peringatan akan dahsyatnya hasad dan begitu berbilang bahayanya. Dan orang yang hasad adalah musuh bagi nikmat Allah.

[al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, al-Qurthubi]

(*) Tentang penamaan anak Nabi Adam alaihissalam dengan Qobil dan Habil, telah dijelaskan oleh sebagian ulama bawa hal tersebut tidak ada dasarnya di dalam syariat Islam. Allahu a'lam.

Semoga Allah ta'ala menyelamatkan kita dari sifat buruk ini. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

SERBA SERBI SEPUTAR HASAD

SERBA-SERBI SEPUTAR HASAD

[1]. Setiap Jiwa Berpotensi Hasad

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

الْحَسَد مَرَضٌ مِنْ أَمْرَاضِ النَّفْسِ وَهُوَ مَرَضٌ غَالِبٌ فَلاَ يَخْلُصُ مِنْهُ إلاَّ قَلِيْلٌ مِنَ النَّاسِ وَلِهَذَا يُقَالُ: مَا خَلاَ جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ لَكِنَّ اللَّئِيْمَ يُبْدِيْهِ وَالْكَرِيْمَ يُخْفِيْهِ

Hasad adalah salah satu penyakit hati, dan hasad adalah penyakit yang dominan, maka tidak ada yang selamat darinya kecuali sedikit dari manusia. Oleh karena itu dikatakan: Tidak ada jasad yang kosong dari hasad, orang yang buruk hatinya akan menampakkannya sedangkan orang yang mulia/baik hatinya akan menyembunyikannya (tidak meluapkannya dengan perkataan atau perbuatan). (Majmu' al-Fatawa, jilid 10)

[2]. Hasad Kezaliman Terhadap Diri Sendiri

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

لَمْ أَرَ ظَالِماً أَشْبَهَ بِالْمَظْلُوْمِ مِنْ حَاسِدٍ

Saya tidak pernah melihat orang zalim paling meyerupai orang yang terzalimi dari pada orang yang hasad. (Fathul Qadir)

Seorang pujangga bersenandung:  

قُلْ لِلْحَسُوْدِ إِذَا تَنَفَّسَ طَعْنَةً   يَا ظَالِماً وَكَأَنَّهُ مَظْلُوْمُ

Katakan kepada pendengki bila ia melepas celaan, "Wahai orang yang zalim" namun dia sendiri terzalimi

[3]. Hasad Yang Diperbolehkan

Tidak semua hasad diharamkan, ternyata ada hasad yang dibolehkan. Hasad jenis ini ulama sebut dengan istilah "ghibtoh". Yaitu seseorang ingin menjadi seperti temannya tanpa mengharapkan nikmat orang itu hilang darinya.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلِّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا.

Tidak ada hasad (ghibtoh) yang terpuji kecuali pada dua hal: (kepada) seorang yang Allah berikan harta lalu ia menghabiskannya untuk kebenaran, dan kepada seseorang yang Allah berikan hikmah lalu ia berhukum dengannya (mengamalkannya) dan mengajarkannya. (HR. al-Bukhari, Muslim, dll.)

Hikmah di sini artinya adalah al-Qur'an dan segala hal yang mencegah datangnya kejahilan (ketidaktahuan) dan menjauhkan dari hal buruk. (Fathul Bari oleh Ibnu Hajar dan Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi)

[4]. Hadis Lemah Seputar Hasad

Hadis tersebut berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hati-hatilah kalian dari hasad, karena hasad dapat memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

[Misykat al-Mashabih no. 5040, Dha'if at-Targhib no. 1723 & 1726, adh-Dha'ifah no. 1902, Dha'if Sunan Abu Dawud no. 4903]

Semoga Allah membersihkan hati kita dari berbagai macam penyakit hati, termasuk hasad. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

HAKIKAT KALIMAT SYAHADAT

HAKIKAT KALIMAT SYAHADAT
◇ Keutamaan Kalimat Syahadat
Kalimat syahadat yang sering diucapan oleh kaum muslimin dalam kesehariannya memiliki kedudukan yang amat tinggi dan keutamaan yang istimewa di dalam agama Islam. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kalimat syahadat adalah pintu menuju Islam. Seorang non muslim tidak akan dikatakan muslim hingga ia membaca kalimat syahadat. Selain itu, kalimat syahadat merupakan kunci untuk menuju surga Allah ta’ala.
Maka di dalam salah satu sabdanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa siapa yang akhir ucapannya adalah la ilaha illaAllah niscaya ia akan masuk surga. Beliau juga bersabda:
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang berucap la ilaha illaAllah dengannya ia mengharap wajah Allah.” (HR. Muslim)
Kalimat syahadat juga terkenal dengan ungkapan kalimat ikhlas atau kalimat tauhid atau juga kalimat thayyibah. Sebab konsekuensi dari kalimat mulia ini bagi orang yang melafalkannya ialah, ia harus meninggalkan segala macam peribadatan kepada selain Allah dan wajib menujukan segala macam ibadah hanya kepada-Nya semata.
Atas dasar beberapa keutamaan ini, kita ketahui begitu perlu dan butuhnya kita mendalami hakikat kalimat la ilaaha illaAllah.
◇ Makna Syahadat Laa ilaaha illaAllah
Mayoritas kaum muslimin mengartikan kalimat ini dengan ucapan “tiada Tuhan selain Allah”. Namun pada nyatanya tuhan itu banyak, hanya saja semua tuhan yang dijadikan sesembahan oleh kaum musyrikin adalah batil. Sedangkan Tuhan yang Haq hanyalah satu; Tuhan saya, Tuhan anda, Tuhan kita semuanya, yaitu Allah Tuhan semesta alam.
Allah ta’ala sendiri menyebutkan bahwa tuhan itu berbilang. Namun semuanya adalah batil kecuali Dia semata. Firman-Nya:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ.
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. al-Hajj: 62)
Maka itu tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaumnya untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang batil dan mentauhidkan Allah semata dengan serta merta mereka mengingkari dan berkata, sebagaimana yang difirmankan Allah:
أَجَعَلَ اْلآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ.
“Mengapa ia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)
Adapun makna yang benar dari kalimat tauhid ini adalah “Tiada Tuhan yang Haq kecuali Allah” atau “Tiada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah,” di mana dalam bahasa Arabnya berbunyi “Laa ma’buuda bihaqqin illaAllah”. (asy-Syahadatan, Abdullah Jibrin)
Inilah makna yang benar yang menyatakan bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk dialamatkan kepada-Nya ibadah kecuali hanya Allah semata. Sebab hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. al-Anbiya': 25)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tuhan Yang Maha Menciptakan segala-galanya itulah yang berhak untuk diibadahi.” (al-Ushul ats-Tsalatsah, Muhammad at-Tamimi)
◇ Rukun Kalimat Laa ilaaha illaAllah
Ulama menjelaskan bahwa kalimat tauhid la ilaha illaAllah terdiri dari dua rukun:
Pertama: la ilaaha, tiada tuhan yang haq, ini berarti menafikan atau meniadakan segala bentuk tuhan yang ada di bumi dan di langit. Kedua: illaAllah, kecuali Allah. Ini menetapkan bahwa satu-satunya Tuhan yang haq yang berhak untuk diibadahi hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah bertutur: “Arti (kalimat tauhid ini) ialah tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata. La ilaaha menafikan seluruh persembahan selain Allah. IllaAllah menetapkan peribadatan hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya.” (al-Ushul ats-Tsalatsah)
Siapa yang benar-benar beribadah hanya kepada Allah semata dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang baik serta ia jauh dari peribadatan kepada selain Allah, sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى.
“Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. al-Baqoroh: 256)
Dalam menafsirkan tali yang amat kuat adh-Dhohhak dan Sa’id bin Jubair rahimahumallah berkata, “yaitu kalimat la ilaaha illaAllah.” (Tafsir Ibn Katsir)
Semoga yang sedikit ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679