Rabu, 25 Februari 2015

MENGUSIR RIYA’

MENGUSIR RIYA’

 

Imam Abu Hamid al-Ghazzali rahimahullah menyebutkan bahwa seseorang tidak akan bisa terlepas dari riya’ kecuali dengan usaha keras dan perjuangan untuk menaklukkan kuatnya nafsu syahwat. Hal itu bisa digapai dengan dua hal:

☆ PERTAMA: Mencabut akar riya’ dan memotong dari dasarnya, yaitu menyukai nikmatnya pujian, menjauh dari rasa sakit celaan dan tidak tamak terhadap apa yang ada pada manusia. Kesemua ini masuk dalam kategori Cinta Kedudukan. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari sifat Suka Dipuji dan Cinta Kedudukan.

☆ KEDUA: Menyingsingkan lengan baju untuk menolak bisikan riya’ yang datang menyapa dengan segala sebab-sebabnya. Dalam hal ini ada tiga sebab:
○ (1). Tahu orang lain melihatnya dan berharap mereka benar-benar melihatnya,
○ (2). Bergetarnya keinginan hati untuk dipuji mereka, dan
○ (3). Mendapatkan kedudukan di sisi mereka.
Dengan kata lain, menjauhkan diri dari Segala Sebab Yang Mendatangkan Riya’.

Selain dua cara yang ditawarkan Abu Hamid al-Ghazzali rahimahullah di atas, ulama yang lain menjelaskan cara lainnya, yakni membiasakan diri menyembunyikan berbagai macam ibadah, sehingga hati ini benar-benar puas dengan wajah Allah ta’ala dan tidak mencari wajah-wajah selain Allah. Meskipun pada mulanya terkadang ia merasa kesulitan namun selanjutnya insya Allah ia akan merasa ringan ketika melakukannya dengan pertolongan dan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Semoga kita dimudahkan untuk menjauhkan riya’ dari segala macam ibadah yang kita lakukan. Aamiin.

 

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA

LIMA MACAM RIYA’

LIMA MACAM RIYA’

 

Di antara penyakit hati yang sangat buruk dan berbahaya bagi diri serta dapat menghapuskan amalan adalah riya. Riya merupakan doa besar yang sampai kepada derajat kesyirikan.

Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah mengatakan:

الرِّيَاءُ إِظْهَارُ الْعِبَادَةِ لِقَصْدِ رُؤْيَةِ النَّاسِ لَهَا فَيَحْمَدُوْا صَاحِبَهَا.

Riya’ artinya menampakkan ibadah dengan tujuan agar orang lain melihatnya sehingga mereka memuji orang yang beribadah tersebut.

Abu Hamid al-Ghozzali rahimahullah menyebutkan lima macam riya’. Begitu mengerikan, karena tidak mudah bisa selamat darinya. Kita memohon kepada Allah agar dihindarkan dari riya’ dengan berbagai macamnya.

○ PERTAMA: Riya’ Dengan Anggota Badan

Seperti sengaja menampakkan kekurusan badan dan muka pucat agar dikira dia begitu bersemangat dalam beribadah, begitu besar perhatiannya terhadap perkara agama dan sangat takut kepada akhirat.

○ KEDUA: Riya’ Dengan Pakaian

Seperti sengaja membiarkan rambut acak-acakan, membuat-buat bekas sujud di dahi, mengenakan pakaian tebal/berbahan kasar, tidak membersihkan baju dan membiarkannya rusak atau berlubang, semua itu ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya mengamalkan agama.

○ KETIGA: Riya’ Dengan Ucapan

Hal ini terjadi pada diri orang-orang yang suka memberi nasihat, peringatan, menyampaikan hikmah, riwayat dan atsar, ketika disampaikan dengan niat untuk menampakkan derasnya ilmu yang ia miliki. Bisa juga dengan menyibukkan diri dengan berzikir, amar makruf dan nahi mungkar di hadapan manusia (dengan niat agar dilihat orang lain).

○ KEEMPAT: Riya’ Dengan Amalan

Seperti riya’-nya orang yang shalat dengan memanjangkan berdiri, rukuk, sujud dan lain-lain (dengan niat dipuji orang lain).

○ KELIMA: Riya’ Dengan Tamu

Seperti meminta kepada seorang ustad atau ulama untuk berkunjung ke rumahnya, agar dikatakan bahwa Syaikh fulan mengunjunginya, supaya dikatakan dia banyak memiliki guru.

Ya Allah, mudahkanlah kami untuk senantiasa ikhlas dalam beramal dan jauhkanlah kami dari penyakit riya’. Allahumma aamiin.

[Mausuah Nadhroh an-Na’im, Vol. 10, hal. 4553]

 

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA

Senin, 23 Februari 2015

SHALAT SUNNAH SEPULANG SAFAR

SHALAT SUNNAH SEPULANG SAFAR

Ada beberapa hadis yang menerangkan tentang disyariatkannya mengerjakan shalat dua rakaat di masjid sepulang dari safar. Berikut di antaranya:

■ TEKS HADIS

◆ Hadis Pertama

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ، فَأَبْطَأَ بِي جَمَلِي وَأَعْيَا، ثُمَّ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلِي، وَقَدِمْتُ بِالْغَدَاةِ فَجِئْتُ الْمَسْجِدَ فَوَجَدْتُهُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ. قَالَ: الآنَ حِينَ قَدِمْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَعْ جَمَلَكَ وَادْخُلْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: فَدَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu peperangan. Namun tiba-tiba untaku berjalan melambat dan kondisinya kian melemah. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah sampai dahulu sebelumku, sedang aku baru sampai pada pagi hari, kemudian aku pergi ke masjid dan aku mendapati beliau berada di depan pintu masjid. Beliau berkata: "Apakah engkau baru tiba?" Benar, jawabku. "Tinggalkan untamu, masuklah (ke masjid) dan kerjakan shalat dua rakaat," lanjut beliau. Lalu aku pun masuk (masjid) dan mengerjakan shalat kemudian pulang. (HR. al-Bukhari No. 2097, Muslim No. 715)

◆ Hadis Kedua

Pada riwayat yang lain Jabir radhiyallahu 'anhu menuturkan: "Aku menjual unta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di tengah perjalanan, dan tatkala kami sampai ke kota Madinah beliau berkata:

اِئْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

Pergilah ke masjid kemudian shalatlah dua rakaat." (HR. al-Bukhari No. 2604)

◆ Hadis Ketiga

Ka’ab bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: ”Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu, apabila baru tiba dari safar beliau masuk ke masjid kemudian mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya." (HR. al-Bukhari)

■ SUNNAH YANG TERLUPAKAN

Tiga hadis tersebut -juga beberapa hadis lain yang senada dengannya- menjelaskan kepada kita akan dianjurkannya shalat dua rakaat di masjid ketika seseorang baru tiba dari safar sebelum ia masuk ke rumahnya. Ini adalah sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebuah sunah yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Padahal Imam al-Bukhari rahimahullah dengan jelas telah memberi sebuah bab dalam kitab Shahih-nya, Bab: ash-Shalah Idza Qadima min Safar, artinya Bab: Melaksanakan Shalat Apabila Baru Tiba Dari Safar.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: "Beberapa hadis tersebut mengandung anjuran untuk shalat dua rakaat di masjid bagi siapa saja yang baru datang dari safar. Maksud shalat ini adalah karena baru datang dari safar, bukannya salat tahiyatul masjid." (Syarh Shahih Muslim, jilid 5, hal. 228 & 229)

Pada saat menyebutkan faedah hadis Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Di antara faedahnya adalah, disunahkan bagi orang yang baru datang dari safar untuk masuk ke kampungnya dalam keadaan suci (berwudhu), dan hendaknya ia menuju rumah Allah (masjid) sebelum pulang ke rumah, lalu ia mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya, kemudian ia duduk (sejenak) bersama orang-orang, baru setelah itu ia kembali ke rumahnya." (Zad al-Ma'ad, jilid 3, hal. 575)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: "Apabila seseorang datang ke negerinya, disunahkan baginya untuk masuk masjid lalu mengerjakan shalat dua rakaat sebelum ia masuk ke rumah. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu mengerjakan shalat tersebut dan memerintahkan (sahabat untuk mengerjakannya) sebagaimana yang ada pada kisah Jabir radhiyallahu 'anhu." (al-Washiyyah, Haifa' ar-Rasyid, hal. 131)

■ PETIKAN FAEDAH

◇ 1) Banyak sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang hampir terlupakan, di antaranya adalah shalat sunah dua rakaat sepulang safar.
◇ 2) Disyariatkan bagi siapa saja yang baru datang dari safar untuk mengerjakan shalat dua rakaat di masjid sebelum ia masuk rumah.
◇ 3) Hukum shalat dua rakaat ini adalah sunah atau bersifat anjuran.
◇ 4) Shalat tersebut bukanlah salat tahiyyatul masjid, akan tetapi shalat sunah ketika datang dari safar.
◇ 5) Shalat sunah ini tidak khusus bagi orang yang baru pulang haji dari Mekah, akan tetapi bersifat umum, baik safar dari luar negeri maupun dari dalam negeri.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan semoga kita dimudahkan untuk menerapkannya. Aamiin.

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA

MEREKA PUN MENANGIS

MEREKA PUN MENANGIS

 

Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita: "Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata kepada Umar radhiyallahu anhu sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Bawalah kami ke kediaman Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu juga mengunjunginya."

Sesampainya di sana, ternyata Ummu Aiman sedang menangis. Abu Bakar dan Umar bertanya: "Apa yang membuatmu menangis? Segala yang ada di sisi Allah tentu lebih baik bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Ia menjawab: "Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terhenti."

Ternyata ucapannya itu menggugah hati mereka berdua dan akhirnya merekapun larut dalam isak tangis bersamanya." (HR. Muslim No. 2454)

Berkenaan dengan ini Syaikh Husain bin Audah al-'Awaisyah hafizhahullah berkata:

يَا  أُمَّ  أَيْمَـنَ قَـدْ بَكَيْـتِ وَ إِنَّـنَا نَلْـهُوْ وَ نَمْجُنُ دُوْنَ  مَعْرِفَةِ الأَدَبِ
لَمْ تُبْصِرِيْ وَضْعَ الْحَدِيْثِ وَلاَ الْكَذِبِ لَمْ  تُبْصِرِيْ بَعْضَ المَعَازِفِ وَ الطَّرَبِ
لَمْ تَشْهَدِيْ شُرْبَ الْخُـمُوْرِ أَوِالزِّنـَا لَمْ  تَلْحَظِيْ مَا قَدْ  أَتَانَا مِنْ عَطَـبِ
لَمْ تَلْحَظِيْ بِـدَعَ الضَّلاَلَةِ وَ الهَـوَى لَوْلاَ مَـمَاتُكِ  قَدْ رَأَيْتِ بِنَا العَجَبِ
لَمْ تَعْلَمِيْ فِعْـلَ الْعَـدُوِّ وَصُـحْبَهُمْ هَا نَحْنُ  نَجْثُوْ لِلْيَهُوْدِ  عَلَى  الرُّكَبِ
وَا حَـرَّ قَلْبِيْ مِنْ تَمـَزُّقِ جَـمْـعِنَا أَضْحَتْ أُمُوْرُكِ  أُمَّتِيْ  مِثْلَ اللُّعَـبِ
تَاللَّـهِ مَا عَـرَفَ البُـكَاءُ صِـرَاطَنَا وَ مَعَ التَّبَـاكِيْ لاَ وَشَائِجُ  أَوْ نَسَبِ

~ Wahai Ummu Aiman! engkau menangis, sementara kita
~ Terus berbuat sia-sia tanpa rasa malu dan kenal etika
~ Engkau belum pernah melihat hadis palsu atau dusta
~ Juga belum menyaksikan alat-alat musik dan dansa
~ Belum pula engkau melihat minuman arak atau zina
~ Serta aneka ragam musibah yang terus menimpa kita
~ Engkau belum melihat bid'ah-bid'ah sesat dan hawa
~ Andai belum mati, pasti kau lihat hal aneh pada kita
~ Engkau belum mengetahui ulah musuh dan sekutunya
~ Beginilah! kami bertekuk lutut tuk Yahudi dengan hina
~ Alangkah panasnya hatiku ini sebab perpecahan kita
~ Segala urusan umatmu ini menjadi seperti mainan boneka
~ Demi Allah, sekarang (berbeda), kita tidak bisa menangis lagi
~ Meski sekedar berpura-pura menangisi saudara senasab (yang mati) 

Semoga Allah ta'ala memberikan kemudahan kepada kita untuk menangis tulus karenaNya. Aamiin.

[Mushiibah Maut an-Nabi, Husain al-‘Awaisyah]

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA

KISAH NYATA ORANG SOK TAHU

KISAH NYATA ORANG SOK TAHU

Bila melihat realita zaman sekarang, banyak sekali kita dapati orang-orang yang sok pintar dan sok tahu. Sekiranya kita berusaha mengumpulkannya, maka akan dapat tersusun dalam beberapa jilid kitab tebal. Sekiranya fenomena sok tahu tersebut dalam urusan dunia, maka masih ringan. Namun, yang sangat disayangkan dan begitu menyedihkan, ternyata fenomena nyata tersebut banyak terjadi dalam urusan agama. Hanya kepada Allah kita banyak-banyak beristighfar.

Yang akan diketengahkan di sini adalah beberapa kisah sok tahu dari orang-orang terdahulu –lalu bagaimana di zaman sekarang?!!- yang tercatat di dalam kitab-kitab para ulama. Semoga kita dimudahkan untuk mengambil pelajaran darinya. 

★ Kisah Pertama: Mufti Khunfusyar

Dahulu ada seorang mufti yang memberi fatwa kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. Orang-orang yang sezaman dengannya memperhatikan fenomena itu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengujinya dengan membuat kata baru yang tidak ada asal-usulnya, yakni “KHUNFUSYAR” lalu mereka bertanya kepada fulan ini tentang maknanya. Ternyata, ia langsung menjawabnya: "(Khunfusyar) adalah tumbuhan berbau harum yang tumbuh di tepi-tepi kota Yaman, bila unta memakannya niscaya air susunya menjadi lebih kental. Seorang pujangga dari Yaman berkata:

~ Sungguh, kecintaan mereka telah mengikat hatiku
~ Sebagaimana khunfusyar yang mengentalkan air susu

Dawud al-Anthoki berkata di dalam kitab at-Tadzkiroh demikian dan demikian, fulan ini dan fulan itu berkata demikian, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda ....  ."

Sampai di sini (sebelum membuat hadis Nabi) orang-orang yang bertanya itu menyuruh Mufti Khunfusyar ini berhenti. Mereka berkata: “Engkau telah berdusta atas nama fulan ini dan itu! Jangan sampai engkau berdusta atas nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam!”

★ Kisah kedua: Salat Maghrib bisa Diqoshor?

Adalah Syams bin ‘Atho’ ar-Razi, salah seorang yang dekat dengan Timur Lang, mengaku banyak memiliki hafalan, sehingga orang-orang merasa takjub dengannya. Singkat cerita disepakatilah sebuah majelis untuk mengujinya. Di antara pertanyaan yang disampaikan ialah, “Apakah ada nash (dalil) yang menunjukkan bahwa salat maghrib bisa diqoshor? Ternyata ia menjawab: “Iya, ada keterangan tentang itu pada hadis Jabir di kitab al-Firdaus karya Abu al-Laits as-Samarqandi.”

Orang-orang pun merujuk ke kitab tersebut namun tidak ditemukan keterangan tentang itu, lalu disampaikan hasil pemeriksaan itu kepadanya. Ternyata ia mengatakan: “Kitab karya as-Samarqandi tersebut terdiri dari tiga naskah: Kubro (Besar), Wusto (Sedang), dan Sughro (Kecil), sementara hadis tersebut ada di naskah Kubro, dan yang itu belum ada di negeri kita ini....”

Sejak mendengar jawabannya jawaban aneh itu, orang-orang tahu dan merasa bahwa ia telah berdusta dengan jawabannya.

★ Kisah Ketiga: Apakah Ada Keraguan terhadap Keberadaan Allah?

Dahulu ada seorang pemuda penuntut ilmu bermazhab Syafi’i yang belum matang keilmuannya, sementara penduduk negerinya membutuhkan seorang Mufti, mereka tidak mendapatkan seorang pun yang layak kecuali dirinya. Karena ragu menerima pemintaan mereka, ia menemui dan berkonsultasi dengan Syaikh-nya. Sang guru memberi solusi untuk menjawab setiap pertanyaan dengan menyebutkan “di mazhab Syafi’i dalam masalah ini ada dua pendapat,” untuk selanjutnya ia dapat memeriksanya di kitab-kitab ulama. Dan .... ternyata dia benar-benar melakukannya.

Lama-kelamaan penduduk negeri mengamatinya banyak menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga akhirnya ada seorang dari mereka yang bertanya: “Apakah ada keraguan terhadap keberadaan Allah?” Mufti muda itu istiqomah, ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Dalam hal ini ada dua pendapat !!!” Sejak saat itu terkuaklah kedok mufti muda itu."

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah memiliki komentar tersendiri tentang kisah di atas, beliau mengatakan: “Kisah ini tidak ditemukan di sumber yang dapat dipercaya. Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, kisah ini termasuk rencana orang-orang yang bermazhab Hanafi untuk menghancurkan mazhab Syafi’i, sebab di antara mereka terjadi permusuhan mazhab yang sangat jelas.”

Fenomena fanatisme mazhab dapat kita temukan di beberapa kitab ulama. Berikut contohnya:

Makmun bin Ahmad al-Harowi salah satu perawi hadis yang banyak membuat-buat hadis palsu lengkap dengan sanad palsunya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara hadis yang ia buat berbunyi (dan dia menyandarkannya kepada Nabi):

يَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّّدُ بْنُ إِدْرِيْسَ أَضَرُّ عَلَى أَمَّتِيْ مِنْ إِبْلِيْسَ، وَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِيْ

“Akan ada di umatku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris (yakni asy-Syafi'i), ia lebih berbahaya dari pada Iblis. Dan akan muncul di tengah umatku seseorang yang dikenal dengan Abu Hanifah, dia adalah lentera bagi umatku.”

Silakan baca keterangan Syaikh al-Albani seputar al-Harowi dan hadis palsunya tersebut di kitab Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wa al Maudhuu’ah, no hadis 570.

★ Kisah Keempat: Di Manakah Ususnya Semut?

Adalah Muqatil bin Sulaiman salah seorang perawi hadis. Meskipun berilmu, namun ia mendapat ujian dengan sikap “sok tahu.” Di antara riwayat yang ada, dia pernah berkata: “Silakan bertanya kepadaku segala sesuatu yang ada di bawah ‘Asry Allah?”

Mendengar itu orang-orang bertanya: “Dimanakah letaknya usus semut?” ternyata ia diam. Mereka juga bertanya kepadanya: “Ketika Nabi Adam pergi haji, siapakah yang mencukur rambutnya?” Ia menjawab: “Saya tidak tahu.”

Oleh karena itu Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkomentar tentangnya: “Ulama bersepakat untuk meninggalkannya (tidak mengambil riwayat darinya).”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita dan semoga kita dimudahkan untuk menjauhi berkata dalam agama tanpa ilmu. Aamiin.

[at-Taa'lum Bakr Abu Zaid, adh-Dha’iifah al-Albani]

✅ Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA

Nasehat-Nasehat Tentang Kematian

��Nasehat-nasihat Ust. Yazid Jawas pd kajian ahad 22-Feb-2015 di JIC, Koja : 

��• Jangan berharap kepada manusia, karena engkau kan kecewa. 

✅• Berharaplah kepada Allah, niscaya engkau tidak akan pernah kecewa. 

��• Manusia yang mulia adalah yang dia bangun disepertiga malam terakhir, kemudian meminta kepada Allah. 

��• Jangan lewatkan waktumu untuk berbuat maksiat, karena tak tahu kapan ajalmu kan menjemput. Sehingga kematianmu menjadi su'ul khothimah 

��• Hidupmu di dunia ibarat satu hari atau setengah hari dibandingkan kehidupanmu di akherat kelak, persiapkanlah bekalmu, dan sebaik2 bekal adalah taqwa. 

��• Infakkanlah hartamu. Karena simpanan harta yang sesungguhnya adalah yang akan engkau bawa sampai mati, bukan yang engkau simpan untuk duniamu. 

��• Jangan engkau tunda pekerjaan pagimu untuk sore harimu, niscaya banyak pekerjaan yang akan engkau selesaikan. 

⏰• Aturlah waktumu sebaik mungkin, kapan mengurus pekerjaan rumah tanggamu, kapan engkau membaca al qur'an, kapan engkau membaca buku yang bermanfaat dan pekerjaan lainnya. 

��• Orang yang tertipu adalah orang yang tidak dapat memanfaatkan waktu luangnya padahal dia dalam keadaan sehat. 

��• Sesungguhnya setelah waktu luang akan ada waktu sibuk, setelah sehat akan ada masa sakit...manfaatkanlah masa sehatmu dan waktu luangmu sebaik mungkin. 

❤• Sesungguhnya masa sakitmu dibandingkan masa sehatmu lebih banyak masa sehatmu. Coba ingatlah berapa lama kamu sakit? Seminggu? Sebulan? Setahun? Bandingkan dengan masa sehatmu! Bersyukurlah 

��• Janganlah engkau merasa aman dari perbuatan maksiat yang engkau lakukan secara diam-diam. Jika istri, suami atau orang lain tak ada yang mengetahui, akan tetapi Allah mengetahui perbuatanmu. Dan kelak perbuatanmu akan dipertanggungjawabkan. 

��• Apabila perbuatan maksiat sudah engkau lakukan, menyesal lah! Bertaubatlah! Bertaubat dengan sebaik2 taubat. Janganlah engkau ulangi. Tegakkanlah sholat niscaya akan menghapusnya. Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya akan menghapus dosa-dosamu. 

��• Berdo'alah. Sesungguhnya do'a yang paling banyak diiucapkan nabi shalalallahu 'alaihi wa sallam adalah - Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik - Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agamaMu. 
��• Jangan engkau tinggalkan setelah sholat shubuh sebuah do'a - Allohumma innii as aluka 'ilmaana fi'a wa rizqon thoyyiba wa 'amalan mutaqobbalaa - Ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. 

✏• Bacalah dzikir pagi dan petang, dia hanya meminta waktumu 10 menit. Kau bisa melakukan disela2 aktivitasmu. 

��• Bacalah buku yang bermanfaat. Karena ia dapat menghantarkanmu kepada kebaikan. 

��• Bacalah buku 4 jam dalam sehari. 

��• Manusia yang paling utama adalah yang baik akhlaknya. Dan manusia yang paling cerdas adalah yang selalu mengingat mati dan mempersiapkan bekal menghadapi kehidupan setelah kematian. 

��• Janganlah engkau panjang angan-angan untuk kehidupan duniamu.  • Ketika usahamu telah mencukupi kebutuhan hidupmu, tak usah engkau tambahkan beban hidupmu dengan berhutang untuk memperluas usahamu. Karena bisa jadi engkau akan mati meninggalkan hutang dan sesungguhnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam tak bersedia menyolati jenazah orang yang mati meninggalkan hutang. 

��• Boleh engkau melakukan hal-hal mubah seperti menjaga kesehatan badanmu, akan tetapi janganlah hal tsb membuatmu lupa menjaga kesehatan hatimu. 

��• Berikan rasa cintamu untuk orang-orang shalih, bukan untuk orang-orang kafir. 

��• Terakhir, maafkanlah orang yang telah menyakiti hatimu - dan ini adalah nasehat yang menghujam hatiku - 

Allahu a'lam

Rabu, 18 Februari 2015

MENGHINDARI SIFAT SOK TAHU TENTANG ILMU

MENGHINDARI SIFAT SOK TAHU

★ Ilmu itu harus ada sebelum berkata dan berbuat. Bila beramal tanpa ilmu dapat membinasakan, maka berfatwa tanpa ilmu dapat menyesatkan. Adapun orang yang tidak berilmu namun menampakkan dirinya seolah-olah berilmu, dialah orang sombong yang sok pintar dan sok tahu. Kita berlindung kepada Allah azza wa jalla dari sifat buruk ini.

☆ Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah mengatakan: “Hati-hati! Jangan sampai jadi Abu Syibr (Abu Sejengkal). Sebagaimana telah dikatakan, ilmu itu terdiri dari tiga jengkal (tingkatan): siapa yang baru masuk pada jengkal pertama akan sombong, ketika naik ke jengkal kedua mulai tawadhu' (rendah hati), dan siapa yang naik hingga jengkal ketiga ia tahu bahwa dirinya tidak tahu (karena begitu luasnya samudra ilmu).”

★ Saudaraku, beliau menasihati kita agar tidak istiqomah pada jengkal pertama, ilmu baru sedikit, namun sombongnya amit-amit. Ilmu belum ada, tapi ucapan dan fatwa membahana. Sehingga gelar yang pantas disandang oleh orang seperti ini adalah Abu Syibr alias Abu Sejengkal alias Si Bodoh yang Sombong.

☆ Fenomena sok tahu banyak permasalahan agama banyak menjangkiti para penuntut ilmu. Bahaya terburuk yang dihasilkannya ialah dapat menyeret kepada berkata tentang agama tanpa ilmu.

★ Syaikh Bakr Abu Zayd rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya sikap sok tahu merupakan tangga menuju berkata dalam agama tanpa ilmu.”

☆ Orang yang sok tahu melupakan ilmu dan tidak menjaganya, berusaha menjadi baligh padahal belum waktunya, ia menggunakan kebaikan untuk melakukan keburukan.

★ Ibnu Hajar al-‘Asqolani rahimahullah mengatakan: “Bila seseorang berkata tidak sesuai keilmuannya, niscaya ia akan membawa berbagai hal yang luar biasa nyelenehnya.”

☆ Di antara doa al-Hasan al-Basri rahimahullah dahulu adalah: “Ya Allah, aku mengeluhkan kepada-Mu buih kotor ini (yakni fenomena sok tahu).”

★ Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit buruk yang dapat menyeret kepada berkata tanpa ilmu ini. Ya Allah, bimbinglah kami untuk mendapatkan ilmu dan mudahkanlah kami untuk mengamalkannya. Aamiin.

[at-Ta'aalum & al-Hilyah, Bakr Abu Zaid]

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA
�� +966556288679
==================
�� [ 29/04/1436 H ]