Rabu, 28 Januari 2015

DOA SEBELUM TIDUR

DOA SEBELUM TIDUR
(Bagian ke-1)

Ada beberapa lafal doa sebelum tidur yang telah disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada kita. Di antaranya satu lafal yang akan kita bahas secara ringkas di bawah ini. Dan ternyata untuk satu lafal tersebut memiliki beberapa sifat. Berikut penjelasan singkatnya. Semoga bermanfaat.
[1]. SIFAT PERTAMA
كَانَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُوْلُ ((بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوْتُ))
Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak tidur malam beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:"Dengan menyebut nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu pula aku mati".
Hadis sahih. Lihat kitab Sahih al-Jami' ash-Shaghir, no: 4650, dari Hudzaifah.
[2]. SIFAT KEDUA
‌كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ ((بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))
Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak tidur beliau mengucapkan:"Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup".
Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Sahih-nya, no: 6324, juga kitabnya al-Adabul Mufrad, no: 915. Syaikh al Albani berkomentar: Sahih. Lihat: Sahih al-Adab al-Mufrad, no 1205, ash-Sahihah, no: 2754.
[3]. SIFAT KETIGA
 أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ قَالَ (( اللّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ ))
Dari al-Bara' bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu apabila hendak tidur beliau mengucapkan:"Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati." 
Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no: 2711 dari al Bara' bin 'Azib.
[4]. SIFAT KEEMPAT
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُوْلُ ((اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))
Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak tidur malam beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:"Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup".
Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 6314, 6325, dari Hudzaifah.
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan dengan lafal:
اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوْتُ
"Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan mati".
Hadis sahih. Lihat Sahih Sunan Abu Dawud, no: 5049.
[5]. SIFAT KELIMA
كَانَ النَّبِيُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ ((بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))
Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila pergi ke tempat tidurnya ia berkata:"Dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup".
Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 6312, dari Hudzaifah. Lihat: ash Sahihah, no: 2754.
Dalam riwayat al-Bukhari yang lain, no: 7395, disebutkan dengan lafal bentuk jamak, riwayat tersebut berbunyi:
(( بِاسْمِكَ نَمُوْتُ وَ نَحْيَا )) 
"Dengan menyebut nama-Mu kami mati dan hidup".
◆ KESIMPULAN 
Dari beberapa hadis di atas dapat disimpulkan, bahwa doa sebelum tidur dengan lafal di atas memiliki banyak sifat, di antaranya sebagaimana yang telah dijabarkan. Silahkan memilih doa yang paling mudah dan paling praktis untuk dibaca sebelum tidur.

DOA SEBELUM TIDUR
[bagian ke-2 ]

Pada tulisan berikut akan diketengahkan lafal doa sebelum tidur yang lebih panjang dari pada doa yang ada pada tulisan sebelumnya. Sebagaimana juga akan dibawakan lima sifat yang berbeda-beda. Silakan dibaca, dihafalkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
[1]. HADIS PERTAMA
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: "اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ". فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ ))
Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku:"Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:"Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindungan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus". Apabila engkau meninggal dunia pada malam itu, niscaya engkau dalam keadaan fitrah. Dan jadikan doa tersebut sebagai ucapan terakhirmu.
Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, No: 247.
[2]. HADIS KEDUA
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: "اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ". فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ )). 
Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku:"Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:"Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus". Apabila engkau mati, niscaya engkau mati dalam keadaan fitrah, dan jadikan doa ini sebagai penutup perkataanmu".
Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, No: 3611, Muslim, No: 2710.  
[3]. HADIS KETIGA
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى رَجُلاً فَقَالَ: (( إِذَا أَرَدْتَ مَضْجَعَكَ فَقُلْ: "اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَ نَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ". فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ)).
Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mewasiatkan kepada seseorang lalu beliau bersabda: "Apabila engkau ingin pergi ke tempat tidur, maka ucapkanlah:"Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus". Apabila engkau meninggal dunia, niscaya engkau meninggal dalam keadaan fitrah".
Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, No 6313.
[4]. HADIS KEEMPAT
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَامَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْـمَنِ ثُمَّ قَالَ: ((اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ)).
Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila pergi ke tempat tidurnya, beliau merebahkan badannya di atas badan bagian kanan kemudian berucap:"Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus".
Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, No: 6315.
[5]. HADIS KELIMA
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ رَجُلاً إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ أَنْ يَقُوْلَ: ((اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ )).
Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada seseorang apabila ia hendak pergi tidur pada malam hari untuk mengucapkan:"Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus".
Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, No: 2710.
◆ KESIMPULAN
[1]. Hendaknya seseorang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, termasuk ketika ia hendak tidur di malam hari.
[2]. Sebelum tidur dianjurkan untuk berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.
[3]. Disunnahkan tidur dengan merebahkan badan miring ke sebelah kanan.
[4]. Bagi yang mengucapkan kalimat di atas dan meninggal pada malam hari itu maka ia meninggal di atas fitrah, yakni Islam.
[5]. Hendaknya doa di atas dijadikan sebagai kalimat terakhir sebelum tidur.
DOA SEBELUM TIDUR
[bagian terakhir]
Pada tulisan kali ini akan disampaikan beberapa doa dan tuntunan sebelum tidur, selain dari dua lafal doa yang telah disampaikan pada dua tulisan sebelumnya. Ada beberapa doa dan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lain yang telah diajarkan kepada para sahabatnya. Berikut ini penjelasan ringkasnya. Semoga bermanfaat.
[1]. DOA PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ
"Segala puji hanya untuk Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami, memberikan kecukupan bagi kami dan mengembalikan kami kepada tempat tinggal kami, betapa banyak orang yang tidak ada yang memberikan kecukupan dan tempat tinggal kepadanya".
[Hadis Sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, No: 2715. Lihat: Shahih Sunan Abu Dawud, No: 5053, Shahih Sunan at-Tirmidzi, No: 3396]
[2]. DOA KEDUA
Dalam riwayat al-Bukhari, No: 6320, disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga membaca doa berikut:
بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
"Dengan menyebut nama-Mu ya Rabb-ku aku merebahkan badanku, dan karena-Mu aku mengangkatnya, apabila Engkau menahan jiwaku, maka kasihanilah ia, dan apabila Engkau melepaskannya, maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga para hamba-Mu yang saleh".
[Doa tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud, No: 5050, dan at-Tirmidzi, lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, No: 3401]
[3]. DOA KETIGA
Pada riwayat Abu Dawud yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca doa:
اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
"Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan para hamba-Mu ".
[Hadis Sahih. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud, No 5045, ash-Shahihah, No: 2754, Shahih Sunan at-Tirmidzi, No: 3398 & 3399]
[4]. MEMBACA AYAT KURSI
Hal tersebut sebagaimana yang ada pada hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan al-Bukhari, No: 2311. Manfaat membaca ayat kursi [QS. al-Baqarah: 255] sebelum tidur, senantiasa akan ada dari Allah penjaga yang melindungi dan setan tidak bisa mendekati hingga pagi hari.
[5]. MEMBACA TASBIH, TAKBIR & TAHMID
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Ali dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma:
إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ.
"Apabila kalian berdua telah bersiap-siap untuk tidur maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) sebanyak tiga puluh empat kali (34x), ucapkanlah tahmid (alhamdulillah) sebanyak tiga puluh tiga kali (33x), dan ucapkanlah tasbih (subhanallah) sebanyak tiga puluh tiga kali (33x)".
[Hadis Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, No: 3113, 5361 & 6318. At-Tirmidzi, No: 3408. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi]
Dalam riwayat lain disebutkan takbir, tahmid, dan tasbih, masing-masing diucapkan sebanyak tiga puluh tiga kali (33x). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ
"Apabila kalian berdua mendatangi tempat tidur atau telah bersiap-siap untuk tidur, maka ucapkanlah takbir sebanyak tiga puluh tiga kali, ucapkanlah tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, dan ucapkanlah tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali juga".
[Hadis Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, No: 3705 & 6318]
[6]. MEMBACA SURAT AL-MU'AWWIDZAAT
Yakni surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Naas. Tuntunan ini dikisahkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِي يَدَيْهِ وَقَرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu apabila hendak pergi tidur beliau meniup pada kedua tangannya dan membaca surat al-mu'awwidzaat, lalu mengusapkan kedua tangannya di badan.”
[Hadis Sahih. Riwayat al-Bukhari, No: 6319]
Dalam riwayat yang lain Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan:
“Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila pergi ke tempat tidurnya setiap malam beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya, beliau membacakan pada keduanya surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Naas. Selanjutnya beliau mengusap dengan keduanya apa yang disanggupi dari badannya, ia memulai dari kepala, wajah, dan anggota badan yang berada di depan, beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.”
[Hadis Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, No: 5017 & 5748. Lihat pula Shahih Sunan at-Tirmidzi, No: 3402]
[7]. MEMBACA SURAT AS-SAJDAH & AL-MULK
Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma mengatakan: “Beliau (Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) dahulu tidaklah tidur hingga membaca surat “Alif Laam Miim, Tanziil..(as-Sajdah) dan “Tabaarokalladzii biyadihil-Mulk.” 
Maksud dari ucapan Jabir di atas, bukan termasuk kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidur sebelum membaca dua surat tersebut.
[Hadis Sahih. Lihat: ash-Shahihah, No. 585, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, No. 4873]
Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan kepada kita untuk menghafalkan dan membaca doa tersebut sebelum kita istirahat di dalam hari, Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita. Beramal sedikit sesuai sunnah jauh lebih utama dan mulia dari pada banyak beramal namun jauh dari sunnah. Allahul-muwaffiq. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

DI ANTARA HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

DI ANTARA HIKMAH DI BALIK MUSIBAH
Sebagian generasi salaf menuturkan:
لَوْلاَ مَصَائِبُ الدُّنْيَا لَوَرَدْنَا اْلآخِرَةَ مِنَ الْمَفَالِيْسِ.
“Sekiranya tidak ada berbagai macam musibah di dunia, niscaya di akhirat kita termasuk orang yang bangkrut. [Tazkiyah an-Nufuus, Ahmad Farid]
Sungguh benar apa yang mereka sampaikan. Musibah itu, meski sekilas tampak menyesakkan hati, namun di balik itu terdapat ribuan hikmah yang telah rapi menanti, apabila memang kita tulus dan sabar ketika menghadapi. Sekiranya tidak ada musibah yang menimpa, bisa jadi seorang hamba datang ke akhirat dengan bergelimang dosa, tanpa ada pengampunan dari Allah ta’ala. Sekiranya tidak ada musibah yang datang menyapa, bisa jadi seorang hamba akan begitu hina dan menderita di akhirat sana.
Di antara hikmah musibah, merupakan cara Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya. Berikut beberapa hadis yang menjelaskan tentang hal tersebut. Semoga menjadi hiburan bagi setiap jiwa yang dirudung duka karena musibah yang sedang menyapanya.
◆ HADIS PERTAMA:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ. 
“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, kesedihan, gundah gulana, gangguan, sesuatu yang menyesakkan hati, hingga duri yang menusuknya, melainkan dengan semua itu Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhari)
◆ HADIS KEDUA:
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ، إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا.
Tidaklah seorang muslim mendapatkan gangguan seperti suatu penyakit atau selainnya, melainkan dengan sebab itu Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan dedaunannya. (HR. al-Bukhari & Muslim)
◆ HADIS KETIGA:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيْبُهُ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ.
Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin, meskipun sekadar duri yang menusuknya, melainkan Allah akan tuliskan baginya satu kebaikan atau dihapuskan darinya satu kesalahan. (HR. Muslim)
◆ HADIS KEEMPAT:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْباً اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِيْ عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.
Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang semisalnya lalu orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Bila agamanya kuat maka ujiannya semakin berat. Namun bila agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya tersebut. Dan ujian itu akan terus menimpa hamba hingga membiarkannya berjalan di atas muka bumi tanpa memiliki dosa sedikitpun. (Hadis hasan sahih riwayat at-Tirmidzi)
Maka itu, hendaknya seorang muslim -minimal- bersabar atas musibah yang menimpanya, sehingga semoga di akhirat kelak ia termasuk orang yang banyak terhapus dosa-dosanya.
Semoga Allah ta'ala menghindarkan kita dari musibah. Jika memang harus terjadi, semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bersabar dan tegar dalam menghadapi. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

BERJALAN DENGAN SATU ALAS KAKI

BERJALAN DENGAN SATU ALAS KAKI

Di antara fenomena yang terkadang kita dapati pada saat keluar dari masjid ialah, ketika seseorang hanya mendapatkan satu alas kaki, ia mengenakannya sambil mencari yang lainnya, atau berjalan dengan alas kaki tersebut menuju alas kaki yang satunya. Ketahuilah, fenomena seperti ini -berjalan dengan satu alas kaki- tidak diperbolehkan di dalam Islam. Nabi mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatkan kita darinya. Selain dari itu, ternyata hal yang satu ini merupakan kebiasaan musuh kita, yaitu setan laknatullah ‘alaihi. Adakah dari kita yang sudi mengikuti langkahnya?!
Berikut beberapa hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar hal tersebut:
◇ HADIS PERTAMA
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang dari kalian mengenakan sandal maka mulailah dari yang sebelah kanan, dan apabila melepas maka mulailah dari yang sebelah kiri, hendaklah ia mengenakan keduanya atau melepaskan keduanya.” (HR. Muslim)
◇ HADIS KEDUA
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila tali sandal seorang dari kalian putus maka hendaknya ia tidak berjalan dengan satu sandal hingga ia memperbaiki tali sandalnya tersebut, dan janganlah pula ia berjalan dengan mengenakan satu khuff (sepatu) saja…”. (HR. Muslim)
◇ HADIS KETIGA
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: “Janganlah engkau berjalan dengan mengenakan satu sandal.” (HR. Muslim)
◇ HADIS KEEMPAT
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya setan berjalan dengan mengenakan satu sandal.” (HR. ath-Thahawi. Lihat: ash-Silsilah ash-Shahihah No 348)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِيْ السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu menuruti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah: 208)
◇ KESIMPULAN:
1. Di antara adab mengenakan alas kaki, memulai mengenakannya dari kaki kanan dan memulai melepaskannya dari kaki kiri.
2. Larangan berjalan dengan satu alas kaki, baik sandal maupun sepatu.
3. Solusi bagi yang tali alas kakinya putus atau rusak adalah dengan melepaskan kedua alas kakinya.
4. Berjalan dengan satu alas kaki merupakan kebiasaan setan.
5. Kaum muslimin dilarang mengikuti langkah-langkah setan dan menyerupainya.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk menerapkan adab-adab islam dan memudahkan kita untuk menjauhi langkah-langkah setan. Aamiin.
[Beberapa hadis di atas dikutip dari kitab Mausuu’ah al-Aadaab al-Islaamiyyah, Abdul Aziz as-Sayyid Nada]
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

DI ANTARA ETIKA KETIKA BERSUA

DI ANTARA ETIKA KETIKA BERSUA

Islam sebagai agama sempurna telah mengajarkan kepada kita banyak etika mulia, di mana di antaranya adalah Etika Ketika Bersua dengan sesama muslim. Berikut ini keterangan singkat dari etika tersebut. Semoga bermanfaat.

PERTAMA: Tersenyum dan Bermuka Ceria.

Senyummu di hadapan saudaramu merupakan ibadah dan bernilai sedekah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: “Janganlah sedikitpun engkau meremehkan hal yang baik meski sekedar bermuka ceria ketika berjumpa dengan saudaramu.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Senyummu di hadapan saudaramu bernilai sedekah bagimu.” (Hasan riwayat at-Tirmidzi)

KEDUA: Mengucapkan Salam.

Minimal dengan mengucapkan, “as-salaamu ‘alaikum.” Jika disempurnakan menjadi “as-salaamu 'alaikum warohmatullahi wa barokaatuh” maka ini lebih baik lagi.

Mengucap salam merupakan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Hak muslim terhadap muslim lainnya ada enam: apabila bertemu dengannya maka ucapkanlah salam …  .” (HR. Muslim)

KETIGA: Berjabat Tangan.

Selain ibadah, hal tersebut merupakan sebab manjur untuk memperkuat tali persaudaraan dan menumbuhkan kecintaan dan kasih sayang di antara sesama muslim. Yang lebih luar biasa, hal  mulia yang satu ini dapat menggugurkan dosa-dosa.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lainnya, lalu ia mengucapkan salam, memegang tangannya lalu berjabat tangan, niscaya dosa-dosa keduanya akan berguguran sebagimana daun-daun pepohonan yang berguguran.” (HR. ath-Thabrani. Lihat: ash-Shahihah 526)

Al-Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Merupakan kesempurnaan salam penghormatan, engkau berjabat tangan dengan saudaramu.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

KEEMPAT: Saling Berangkulan.

Apabila salah satu dari keduanya baru datang dari safar maka dianjurkan untuk saling berangkulan. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan persaudaraan, dan ini termasuk petunjuk para sahabat mulia radhiyallahu anhum.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengatakan: “Dahulu (para sahabat) apabila bertemu mereka berjabat tangan, dan apabila pulang dari safar mereka saling berangkulan.” (Sahih riwayat ath-Thabrani)

[dikutip dari kitab al-Mausu’ah al-Aadaab al-Islaamiyyah, Abdul Aziz as-Sayyid Nada]

Semoga yang sedikit ini memberikan manfaat dan semoga kita semua dimudahkan untuk menerapkannya. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

NASIHAT ISTIMEWA DAN GENERASI MULIA

NASIHAT ISTIMEWA DAN GENERASI MULIA

Kalimat indah berisi mutiara nasihat dari para pendahulu kita dari kalangan orang-orang saleh begitu melimpah. Salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh seorang ulama dari kalangan tabi’in, Malik bin Dinar rahimahullah berikut ini.
Beliau rahimahullah menuturkan:
كَانَ اْلأَبْرَارُ يَتَوَاصَوْنَ بِثَلاَثٍ: بِسَجْنِ اللِّسَانِ، وَكَثْرَةِ اْلاِسْتِغْفَارِ وَالْعُــزْلَةِ.

Dahulu orang-orang saleh saling menasihati dengan tiga perkara: memenjarakan lisan, memperbanyak istighfar dan menyendiri.” [al-‘Uzlah wal-Infirad, Ibnu Abi Dunya tahqiq Masyhur Hasan Alu Salman]

PERTAMA: Memenjarakan Lisan.
Penjarakanlah lisan anda dari perkataan mubah yang tidak ada manfaatnya, terlebih dari perkataan yang dilarang dan diharamkan di dalam Islam.

KEDUA: Memperbanyak Istighfar.
Perbanyaklah istighfar. Sungguh beruntung seorang hamba yang catatan amalnya terdapat limpahan istighfar. Tidak akan merugi seorang hamba yang terus membasahi lisannya dengan istighfar kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

KETIGA: Menyendiri.
Menyendirilah dari tengah manusia yang tidak baik dan jauh dari agama agar tidak tertular keburukan mereka. Bersahabatlah dengan orang-orang saleh yang dapat menularkan kesalehannya kepada anda dan membimbing anda menuju cahaya iman dan takwa.

Semoga kita dimudahkan untuk mengamalkan nasihat yang baik dari orang-orang saleh dari generasi mulia. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM
0556288679

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI (2)

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI
[bagian ke-2 dari 2 tulisan]
Di antara kiat-kiat menggapai kebahagiaan hakiki adalah:
[5]. Mohon agar diberi kelapangan dada.
Di antara sifat orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan ialah selalu memohon kelapangan dada kepada Allah, sebagaimana yang telah dicontohkan nabi Musa ‘alaihissalam. Firman-Nya:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ.
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. (QS. Toha: 25)
Dan Nabi kita telah Allah berikan kenikmatan dengan kelapangan dada. Firman-Nya:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ.
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (QS. al-Insyirah: 1)
Kelapangan tersebut akan digapai dengan mengilmui Islam dan mengamalkannya. Allah al-Aziz azza wa jalla berfirman:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلاَمِ.
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (QS. al-An’am: 125)
Bagi seorang belum merasakan kelapangan dada dengan Islam, hendaklah ia banyak-banyak introspeksi dan evaluasi diri.
[6]. Berbuat baik kepada sesama.
Ini merupakan perkara yang dicintai. Orang yang melakukannya begitu dicintai di tengah manusia. Dengan demikian, tentu saja ia bahagia di tengah-tengah kaumnya. Sebagai ganjaran dari Rabb-nya, ia senantiasa mendapatkan kebersamaan dengan-Nya. Allah al-Hakim berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl: 128)
[7]. Tidak panjang angan-angan.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullahu menuturkan: “Kehidupan dunia ini pendek, maka jangan engkau perpendek lagi dengan kesedihan dan keburukan.”
Karena manusia di dunia adalah sementara, panjang angan-angan yang tidak pernah tercapai akan membuat sesak dan sempit hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.
Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang asing atau musafir yang lewat. (HR. Bukhari)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadis di atas, “Maksudnya adalah zuhud di dunia dan tidak bersandar kepadanya, sebab sepanjang apa umurmu pasti engkau akan berpisah dengan dunia.” (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah)
[8]. Yakin bahwa kebahagiaan hakiki ada di akhirat.
Perhatikanlah dua firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:
Pertama:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ اْلآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. al-‘Ankabut: 64)
Kedua:
وَأَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِيْ الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ.
Adapun orang-orang yang berbahagia, tempat mereka adala di surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhan-mu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (QS. Hud: 108)
Kedua ayat di atas, demikian pula ayat-ayat yang lainnya, menjelakan bahwa kehidupan yang hakiki bagi seorang muslim adalah di akhirat kelak. Adapun dunia adalah tempat persinggahan sementara. Jika demikian, jadikanlah dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan kampung akhirat yang kekal abadi.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mewujudkannya. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI (1)

KIAT-KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI
[bagian ke-1 dari 2 tulisan]
Setiap orang pasti ingin hidup bahagia, terlepas dari cara yang ditempuh dalam mewujudkannya. Namun realitanya tidak sedikit dari manusia yang menyimpang dari jalan yang lurus dalam menggapai kebahagiaan, di mana di antara sebabnya karena mereka terbuai oleh kebahagiaan dunia yang semu lagi menipu.
Sebagian mereka melihat bahwa kebahagiaan itu ada pada harta, yang lainnya beranggapan ada pada tahta, sebagiannya lagi memandang ada pada prestasi dan popularitas. Sehingga setiap mereka berusaha mewujudkan apa yang mereka impian menjadi sumber kebahagiaan. Siapa yang paling giat, itulah yang paling tersesat dan paling jauh dari tuntunan Agama.
Lantas, dimanakah sebenarnya kebahagiaan hakiki itu berada, dan apa saja kiat-kiat untuk menggapainya? Jawabnya, ada pada agama Islam. Adapun kiat-kiatnya, bisa dibaca pada poin-poin singkat di bawah ini. Semoga bermanfaat.
○ Kiat-Kiat Menggapai Kebahagiaan Hakiki
Dalam menggapai kebahagiaan harus meniti jalan yang telah digariskan. Seorang yang mengharapkan kebahagiaan namun enggan meniti jalannya, maka tiada mungkin ia dapat menggapainya.
Seorang penyair berkata:
تَرْجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا  إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
Engkau berharap keselamatan namun enggan meniti jalannya....
(Ketahuilah) perahu itu tidak pernah bisa berlayar di daratan
Berikut beberapa sebab datangnya kebahagiaan hakiki yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan kekal abadi di dalam surga Allah ta’ala.
[1]. Beriman kepada Allah dan beramal shalih.
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata (al-Wasa’il al-Mufidah): “Sebab teragung dan mendasar untuk menggapai kebahagiaan adalah beriman dan beramal shalih.” Kemudian beliau membawakan firman Allah ar-Rabb ta’ala berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً.
Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik. (QS. an-Nahl: 97)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsirkan kehidupan yang baik dengan kebahagiaan. Mujahid dan Qotadah berkata: “Tiada kehidupan yang baik bagi seseorang kecuali kehidupan di surga.” (Tafsir Ibn Katsir)
[2]. Beriman kepada takdir Allah, yang baik dan yang buruk.
Ketahuilah, apa yang akan menimpamu maka tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan mungkin menimpamu. Orang yang seperti ini berarti ia beriman kepada takdir Allah. Dan beriman kepada takdir Allah merupakan rukun iman yang dapat membawa kepada kebahagiaan.
Allah berfirman seraya menjelaskan buah keimanan kepada takdir-Nya:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيْرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوْا بِمَا آَتَاكُمْ.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. al-Hadid: 22-23)
[3]. Menuntut ilmu syar’i.
Cukup satu hadits berikut untuk menjelaskan hal ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللَّهِ: يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.
Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah, mereka membaca al-Qur'an dan mempelajarinya, melainkan ketenangan akan turun kepadanya, rahmat Allah akan meliputinya, malaikat mengitarinya, dan Allah memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)
Dengan ilmu, seorang tahu hikmah di balik musibah, tahu bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah dengan adil, tahu bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan kembali ke agama, dan tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah di akhirat kelak, sehingga tidaklah ia menjadikan dunia ini melainkan sebagai sarana untuk menuju akhiratnya.
[4]. Memperbanyak zikir kepada Allah dan membaca al-Qur'an
Firman-Nya:
أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ.
Ingatlah, hanya dengan berzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)
Ulama berkata: “Seutama-utama zikir adalah tilawah kitabullah ‘azza wa jalla.” (Tilawah al-Qur’an memiiki dua makna: membaca dan mengamalkannya)
Muslim yang istiqomah berzikir kepada Allah akan bahagia dan tentram hatinya. Sebaliknya, orang yang enggan mengingat-Nya akan sempit kehidupanya. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Toha: 124)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari berzikir kepada Allah, di antaranya dapat mengusir kesedihan dan gundah gulana dari hati serta mendatangkan kesenangan, kebahagiaan, dan kelapangan dada. (Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid)
[bersambung insya Allah]
Semoga dimudahkan untuk menggapainya. Aamiin.
Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
0556288679