Kamis, 05 Februari 2015

SEPUTAR TITIP SALAM

SEPUTAR TITIP SALAM

 

■ TEKS HADIS

Ada beberapa hadis yang menjelaskan permasalahan seputar titip salam. Di antaranya dua hadis berikut:

● HADIS PERTAMA:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، تَرَى مَا لاَ نَرَى.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata: "Wahai Aisyah, ini ada Jibril, dia titip salam untukmu." Aisyah berkata: "Aku jawab, wa 'alaihissalam wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah untuknya), engkau dapat melihat apa yang tidak kami lihat." (HR. al-Bukhari, no. 2217, Muslim, no. 2447)

● HADIS KEDUA:

عَنْ غَالِبٍ قَالَ: إِنَّا لَجُلُوْسٌ بِبَابِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ عَنْ جَدِّيْ قَالَ: بَعَثَنِيْ أَبِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ. قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَبِيْ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ. فَقَالَ: عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمَ.

Dari Ghalib rahimahullah ia berkata: Sesungguhnya kami pernah duduk-duduk di depan pintu (rumah) al-Hasan al-Bashri rahimahullah, tiba-tiba seseorang datang (kepada kami) dan bercerita: Ayahku bercerita dari kakekku, ia (kakekku) berkata: Ayahku pernah mengutusku untuk menemui Rasulullah rahimahullah lalu ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikan salamku kepadanya. Ia (kakekku) berkata: Maka aku menemui beliau dan berkata: Ayahku titip salam untukmu. Maka beliau menjawab: "Wa 'alaika wa 'ala abikassalam (semoga keselamatan tercurah kepadamu dan kepada ayahmu)." (Hadis hasan. Lihat: Misykat al-Mashabih, no. 4655, Shahah Abi Dawud, no. 5231)

■ CARA MENJAWAB TITIPAN SALAM

Apabila ada teman, saudara, kerabat, keluarga atau siapa saja yang titip salam melalui seseorang kepada kita, maka kita wajib menjawabnya. Allah ta'ala berfirman:  

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang semisalnya). (QS. an-Nisa': 86)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata: "Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan pada ayat ini." (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa' ayat 86)

Al-Qurthubi rahimahullah bertutur: "Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib." (Tafsir Fath al-Qadir, surat an-Nisa' ayat 86)

Dari ayat di atas dapat kita ketahui dua cara menjawab salam: Pertama: sesuai dengan ucapan salam. Kedua: menambah dengan beberapa kata yang disyariatkan.

Sebagai contoh: bila seorang mengucap, "assalam'alaikum", maka minimal kita menjawabnya dengan "wa'alaikumussalam", dan yang lebih baik ditambah kata "wa rahmatullah", dan yang lebih baik lagi ditambah dengan kata "wa barokatuh."

Hanya saja, titip salam tidak sama dengan mengucapkan salam secara langsung, di mana pada saat kita titip salam hanya berkata, "titip salam untuk fulan" atau "sampaikan salam buat fulan", maka untuk menjawabnya kita pergunakan kata paling minimal, yaitu "wa 'alaihissalam, dan semakin ditambah maka semakin baik. Dalam sebuah riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab salam Jibril -sebagaimana pada hadis pertama di atas- dengan ucapan, " wa 'alaihissalam wa rahmatullah wa barokatuh." (Shahih al-Adab al-Mufrad, karya al-Albani, no. 634/827). Ini poin pertama.

Poin kedua, lalu bagaimana dengan orang yang menyampaikan salam tersebut, apakah kita mendoakannya juga atau tidak? Maka dapat dijawab: ya, kita mendoakannya juga. Akan tetapi, ulama menjelaskan bahwa mendoakan orang yang menyampaikan salam tersebut hukumnya adalah sunnah (bersifat anjuran).

Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: "Dianjurkan mendoakan orang yang menyampaikan salam." (Fath a-Bari, jilid 1, hal. 41)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Di antara tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah, apabila seseorang menyampaikan salam dari orang lain untuk beliau, maka beliau menjawab salam tersebut kepadanya dan kepada orang yang menyampaikannya." (Zad al-Ma'ad, jilid 2, hal. 427)

Hal ini dapat kita ketahui dari jawaban Aisyah radhiyallahu 'anha yang hanya menjawab salam untuk Jibril ‘alaihissalam saja dan tidak ikut mendoakan beliau, dan beliau pun tidak mengingkarinya. Bila hukumnya wajib, tentu saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah meluruskan ucapan Aisyah radhiyallahu 'anha. Berkenaan dengan tambahan doa untuk orang yang menyampaikan salam tersebut, maka telah ditunjukkan oleh hadis kedua di atas.

■ PETIKAN FAEDAH

Dari uraian ringkas di atas dapat kita sarikan beberapa faidah:

(1). Titip salam merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat.
(2). Memulai salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib.
(3). Kewajiban menjawab salam sesuai dengan ucapan salam, jika ditambahi dengan beberapa kata yang disyariatkan, maka itu lebih baik lagi.
(4). Dianjurkan ikut mendoakan orang yang menyampaikan salam.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan berbuah pahala bagi yang menulis, membaca dan yang menyebarkannya. Baarokallahu fiikum.

 

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA
�� +966556288679
==================
�� [16/04/1436 H]

Rabu, 04 Februari 2015

|| KEMULIAAN BAGI YANG MENJAGA LISAN ||

||  KEMULIAAN BAGI YANG MENJAGA LISAN  ||

 

Seorang bijak berkata: “Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, suka membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan dan berbicara tanpa ada faedahnya.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya oleh ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “ Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Beliau menjawab: “ Jagalah lisanmu.” (Sahih riwayat at-Tirmidzi)

Bagi siapa saja yang menginginkan kemenangan beserta limpahan pahalanya, maka hendaknya ia benar-benar menjaga lisannya. Berikut ini beberapa balasan dari ar-Rahman bagi siapa saja yang menjaga lisan. Semoga bermanfaat.

☆ [1]. Berkata Baik Adalah Sedekah Dan Sedekah Merupakan Ibadah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ.

Ucapan yang baik adalah sedekah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kalimat yang baik, seperti membaca al-Qur’an, berzikir, mengucapkan kalimat-kalimat baik yang berisi nasihat, petuah dan lain-lain merupakan sedekah, yang dengan semua itu Allah akan membalasnya dengan pahala. Sebab sedekah merupakan ibadah, dan ibadah yang dikerjakan seorang hamba, pasti akan dibalas oleh Allah dengan limpahan pahala.

☆ [2]. Mendapatkan Keberkahan Di Dunia

Seseorang yang berkata baik dan jujur dalam ucapannya, Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan tersebut. Allah akan memberikan keberkahan baginya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan potret pedagang yang mendapatkan limpahan keberkahan dari Allah ta’ala. Sabda beliau:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا.

Penjual dan pembeli memiliki hak melanjutkan atau mengurungkan akad selama mereka berdua belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan menjelaskan (aib barang) maka jual beli mereka akan diberkahi, namun apabila keduanya menyembunyikan (aib barang) dan berdusta maka keberkahan jual beli mereka akan dilenyapkan. (HR. al-Bukhari)

Hadis ini sekaligus nasihat bagi siapa saja yang berniaga. Hendaknya ia bertakwa kepada Allah dalam transaksi jual belinya, jangan sampai berdusta atau menyembunyikan aib barangnya agar keberkahan dari Allah senantiasa turun kepadanya.

☆ [3]. Jaminan Masuk Surga

Bagi orang yang jujur, maka kejujurannya itu dapat mengantarkan dirinya masuk ke dalam surga, dan dia pun di sisi Allah terkenal sebagai orang yang sangat jujur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيْقًا.

Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga, dan sesungguhnya seseorang itu ia senantiasa berkata jujur hingga ia ditulis (di sisi Allah) sebagai seorang yang jujur. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjamin bagi siapa saja yang menjaga lisannya dengan dimasukkan ke dalam surga. Sabda beliau:

مَنْ يَضْمَنُ لِيْ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَرِجْلَيْهِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ.

Barang siapa yang menjamin bagiku (bisa menjaga) lisan dan kehormatannya maka aku jamin baginya surga. (Muttafaq ‘alaihi)

☆ [4]. Paling Dekat Dengan Nabi Pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقاً.

Sesungguhnya di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah kalian yang paling baik akhlaknya. (HR. ath-Thabrani dengan sanad Hasan)

Tentu saja termasuk akhlak yang baik dan mulia bagi seseorang apabila ia menjaga lisannya, bertutur kata dengan baik, berbicara dalam hal-hal yang bermanfaat dan lain sebagainya.

☆ [5]. Dijanjikan Sebuah Istana Di Surga

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهَ.

Aku menjamin sebuah rumah (istana) di pinggiran surga bagi yang meninggalkan debat meskipun ia di atas kebenaran, dan sebuah rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan dusta meskipun sekedar bercanda, dan sebuah rumah di surga paling atas bagi yang baik akhlaknya. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan li ghairihi)

Inilah beberapa keutamaan dan kemuliaan bagi siapa saja yang menjaga lisannya. Tidaklah ia menggunakannya kecuali untuk hal yang bermanfaat. Terakhir, simaklah baik-baik untaian nasihat dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah berikut ini. Ia berkata:

لِسَانُ الْعَاقِلِ وَرَاءَ قَلْبِهِ، فَإِذَا أَرَادَ الْكَلاَمَ تَفَكَّرَ، فَإِذَا كَانَ لَهُ قَالَ وَإِذَا كَانَ عَلَيْهِ سَكَتَ.

Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya, apabila ingin berbicara maka ia berpikir terlebih dahulu, bila ada manfaatnya maka ia katakan, namun bila membahayakan maka ia memilih diam.

Semoga Allah membimbing kita semua menuju senantiasa dimudahkan menjaga lisan hingga ajal menjemput kita. Aamiin.

 

✅  Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA
�� +966556288679
==================
�� [  15/04/1436 H  ]

ADAB BEROBAT

ADAB BEROBAT
[Bagian Pertama]

Di bawah ini beberapa poin penting seputar adab berobat. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Selamat menyimak. Baarokallahu fiikum.

◆ [1]. NIAT YANG BAIK

Niat yang baik hendaklah ada pada diri orang yang berobat (pasien) atau orang yang mengobati (dokter). Hendaklah keduanya sama-sama berniat baik dan tulus dalam berobat dan mengobati.

Adapun orang yang sedang sakit, hendaklah ia niatkan untuk mengharapkan kesembuhan dari Allah ta'ala semata dengan tujuan menjaga kesehatan dan kekuatan dirinya agar dapat meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah ta'ala. Sedangkan bagi dokter, hendaklah ia meluruskan niat dalam membantu saudaranya dengan sekuat ilmu yang telah Allah berikan kepadanya. Janganlah ia jadikan materi sebagai segala-galanya dalam membantu sesama.

Bila keduanya memiliki niat seperti ini, insyaAllah keduanya akan mendapatkan banyak pahala dari Allah azza wa jalla. 

◆ [2]. YAKIN KESEMBUHAN DARI TANGAN ALLAH

Allah ta'ala telah menurunkan penyakit dan hanya Dia yang mampu mengangkatnya. Keyakinan seperti ini bisa kita dapati pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

(Ibrahim berkata:) dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku. (QS. asy-Syu'ara’: 80)

Tidak ada yang dapat menurunkan penyakit dan mengangkatnya kecuali hanya Allah semata. Allah ta'ala berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)

Demikian pula bila seseorang terkena guna-guna atau sihir. Maka itu semua terjadi dengan izin Allah azza wa jalla. Jika Allah tidak mengizinkan maka sihir itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Firman-Nya:

وَمَا هُمْ بِضَارِّيْنَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan mereka itu (tukang sihir) tidak dapat memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. (QS. al-Baqoroh: 102)

Bahkan, bila seluruh umat manusia berkumpul untuk berbuat baik atau buruk kepada seseorang, maka hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan izin dan kehendak dari Allah ta'ala.

Hendaklah keyakinan ini dipegang erat-erat oleh orang yang sedang sakit maupun dokternya. Adapun segala macam pengobatan yang dibolehkan Syariat sekedar sebab. Bila Allah berkehendak maka obat itu akan bermanfaat. Bila tidak tentu saja obat itu tidak akan ada manfaatnya sama sekali.

Barang siapa yang meyakini bahwa pengobatan itu dapat menyembuhkan dengan sendirinya, maka ia telah berbuat kesyirikan kepada Allah azza wa jalla. Nas-alullaha as-salamah wal 'afiyah. 

◆ [3]. BERTANYA TENTANG PENYAKIT KEPADA AHLINYA

Hal ini sesuai firman Allah ta'ala:

فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu bila kamu tidak mengetahui. (QS. al-Anbiya': 7 dan an-Nahl: 43)

Ayat ini menjadi kaedah umum yang dapat diterapkan dalam segala sisi kehidupan. Bila kita ingin tahu tentang perkara agama marilah kita bertanya kepada ulama. Jika ingin tahu tata cara membuat masakan tertentu bisa ditanyakan kepada orang yang tahu resepnya. Demikian pula, bila ingin mengetahui cara kesembuhan dari penyakit yang diderita, maka silahkan tanyakan kepada ahlinya, yakni dokter.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ أَوْ خَلَقَ لَهُ دَوَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلاَّ السَّامَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَا السَّامُ ؟ قَالَ: اَلْمَوْتُ

Sesungguhnya Allah tidak menurunkan atau menciptakan suatu penyakit melainkan Dia pasti menurunkan atau menciptakan obatnya. (Obat itu) diketahui oleh ahlinya dan tidak diketahui yang lain. Kecuali as-Sam. Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa itu as-Sam?" Kematian, jawab beliau. (ash-Shahihah, no. 1650)

ADAB BEROBAT
(Bagian Kedua)

Berikut lanjutan tulisan seputar adab berobat. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Selamat menyimak.

◆ [4]. MENCARI KESEMBUHAN SESUAI TUNTUNAN SYARIAT

Permasalahan ini bersifat umum. Banyak sekali cara penyembuhan yang dibolehkan Syariat. Dalam hal ini ada dua poin penting yang harus diperhatikan:

◇ Pertama: bahwa segala macam penyembuhan -medis maupun non medis, obat maupun dokter- hanya sekadar sarana atau sebab kesembuhan, sedangkan yang benar-benar menyembuhkan hanyalah Allah ta'ala.

◇ Kedua: ikhtiyar (usaha) itu tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram. Apalagi bila sampai kepada perbuatan yang mengandung kesyirikan. Wal'iyadzu billah.

Berikut beberapa cara penyembuhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

◇ 1). al-Habatus Sauda' (Jintan Hitam)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ )). قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَالسَّامُ الْمَوْتُ، وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ الشُّوْنِيْزُ

Di dalam al-habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat penyembuhan bagi segala macam penyakit kecuali as-Saam. Ibnu Syihab mengatakan, "as-Saam berarti kematian, sedangkan al-habbatus sauda' berarti Syuniz". (HR. al-Bukhari & Muslim)

Dengan izin Allah azza wa jalla jintan hitam sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

◇ 2). Madu Lebah

Allah ta'ala berfirman:

يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ  َلآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. an-Nahl: 69) 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ

Kesembuhan itu ada pada tiga hal: yaitu pada minuman madu, sayatan bekam dan pengobatan dengan besi panas (kay). Dan aku melarang umatku melakukan pengobatan dengan kay. (HR. al-Bukhari)

◇ 3). Hijamah (Berbekam)

Hal ini sebagaimana telah disebutkan pada hadis di atas. Dan dalam hadis yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ

Sesungguhnya sebaik-baik cara yang kalian lakukan untuk pengobatan adalah dengan berbekam. (HR. al-Bukhari)

• Wasiat Malaikat Untuk Berbekam

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan kisah ketika beliau di Isro' kan, tidaklah beliau melewati sekumpulan Malaikat melainkan mereka berkata, "Perintahkanlah umatmu untuk berbekam".

• Waktu Terbaik Untuk Bekam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa waktu yang paling baik untuk berbekam adalah pada tanggal 17, 19 dan 21 dengan perhitungan kelender Hijriah. (HR. Abu Dawud, al-Hakim & al-Baihaqi)

Adapun hari yang paling baik adalah pada hari Senin, Selasa dan Kamis. Dan sebaiknya hindari berbekam pada hari Rabu, Jum'at, Sabtu dan Ahad. (HR. Ibnu Majah)

◇ 4). Air Zamzam

Tentang air zamzam ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ (وَشِفَاءُ سُقْمٍ)

Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkah. Air zamzam merupakan makanan yang dapat mengenyangkan (dan obat kesembuhan bagi penyakit). (HR. Muslim, al-Bazzar, al-Baihaqi & ath-Thabrani)

Pada hadis Jabir disebutkan:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zamzam dapat bermanfaat sesuai dengan tujuan diminumnya. (HR. Ibnu Majah)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Aku sendiri dan juga orang yang lain pernah mempraktikkan upaya penyembuhan terhadap beberapa penyakit dengan air zamzam, dan hasilnya sangat menakjubkan, aku berhasil mengobati berbagai macam penyakit dan aku pun sembuh dengan izin Allah." (Zadul Ma'ad, jilid IV, hlm. 178 & 393)

◇ 5). Bersedekah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ باِلصَّدَقَةِ

Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah. (Hadis hasan. Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 744. Sebagian ulama mempermasalahkan hadis ini)

◆ [5]. MENJAUHI PENYEMBUHAN DENGAN CARA HARAM

Wajib bagi seorang yang menderita suatu penyakit untuk menjauhi pengobatan dengan cara-cara yang diharamkan Syariat. Tentang masalah ini, secara umum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sabda beliau, sebagaimana ucapan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang (pengobatan) dengan obat yang khobiits (buruk). (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Obat yang khobiits dalam hadis di atas yaitu obat yang najis atau haram. Sedangkan at-Tirmidzi menafsirkan kata khobiits dengan racun.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Sebagian ulama menyebutkan bahwa khobiitsnya obat itu dapat ditinjau dari dua sisi: Salah satunya, khobiits karena najis. Yaitu karena mengandung zat haram seperti khomer dan daging hewan yang haram dimakan. Kedua, khobiits dari sisi rasa. Tidak diingkari suatu obat tidak disukai lantaran sangat berat bagi jiwa dan dibenci."

Pernah suatu ketika seseorang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam perihal berobat dengan khomer dan dia berkata: Khomer itu obat. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ، وَلَكِنَّهَا دَاءٌ

Itu bukan obat, tapi racun. (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

ADAB BEROBAT
[Bagian Ketiga]

Berikut tulisan ketiga dari adab berobat. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Baarokallahu fiikum.

◆ [6]. HARAMNYA MENDATANGI PARANORMAL

Mendatangi paranormal, dukun, atau orang yang seprofesi dengan mereka untuk menanyakan suatu penyakit, meminta kesembuhan atau tujuan lain yang tidak dibenarkan Syariat hukumnya adalah haram. Apabila sampai membenarkan ucapannya, maka dapat menyebabkan kekafiran, kafir kepada al-Qur'an. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam. (HR. Muslim)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa bertanya kepada paranormal terbagi menjadi empat macam:

◇ Pertama: Hanya sekedar bertanya biasa, ini hukumya haram.

◇ Kedua: Bertanya lalu membenarkan ucapannya dan meyakini (kebenarannya), ini adalah kekafiran. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافاً أَوْ كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu ia membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (Hadis shahih. Lihat: Shahih al-Jami' ash-Shaghar, no. 5934)

◇ Ketiga: Bertanya dengan tujuan mengujinya, apakah ia jujur atau dusta, bukan untuk berpegang dengan ucapannya, maka ini tidak apa-apa dan tidak termasuk ke dalam hadis di atas.

◇ Keempat: Bertanya dengan tujuan untuk menampakkan kelemahan dan kedustaannya, yakni mengujinya pada perkara-perkara yang dapat menampakkan kedustaan dan kelemahannya, maka ini dianjurkan, bahkan bisa jadi wajib".

Kesimpulannya, bertanya kepada mereka untuk bertanya tentang suatu penyakit atau bertujuan untuk pengobatan hukumnya adalah haram. Sebagai sanksinya, shalat yang ia kerjakan selama empat puluh malam tidak akan diterima Allah subhanahu wa ta'ala. Apabila ia sampai membenarkan ucapannya, maka hal ini dapat menyeret seseorang kepada kekafiran. Wal ‘iyadzu billah.

◆ [7]. IKHTIYAR (BERUSAHA)

Sebagaimana telah disinggung pada poin ke empat di atas (lihat tulisan sebelumnya), bahwa ikhtiyar yang dimaksud adalah ikhtiyar yang dihalalkan Syariat, tidak mengandung hal haram, dan tidak pula mengandung kesyirikan.

◆ [8]. BANYAK BERDOA, ISTIGHFAR & BERTAUBAT

Allah ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Rabb-mu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir: 40)

• Allah Pasti Mengabulkan Doa

Selama orang yang berdoa menjauhi hal-hal yang bisa menyebabkan tidak terkabulkannya doa maka doa itu akan terkabul insyaAllah. Bagi orang yang berdoa, hendaklah ia memperhatikan beberapa poin berikut ini:

- Mentauhidkan Allah semata.
- Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berdoa.
- Khusyuk dalam berdoa.
- Menghadap Kiblat.
- Mengangkat kedua tangan.
- Dalam keadaan suci (berwudhu).
- Berdoa pada waktu mustajab.
- Baik makanan, minuman & pakaiannnya.
- Menjauhi kemaksiatan.
- Tidak terburu-buru dengan terkabulkanya doa.
- Mengulangi doa hingga tiga kali.
- Tidak memutuskan silaturahmi.
- Tidak mengangkat atau mengeraskan suara.
- Mengawali doa dengan pujian kepada Allah.
- Bersholawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Terus-menerus dan tidak putus asa, dll.

• Tiga Cara Dikabulkannya Doa

Tidaklah seorang muslim berdoa melainkan Allah akan mengabulkan doa itu dengan salah satu dari tiga hal yang dijelaskan dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

Tidaklah seorang muslim memanjatkan sebuah doa yang tidak mengandung dosa dan memutus tali silaturahmi melainkan Allah akan berikan kepadanya salah satu dari tiga hal berikut; doanya segera dikabulkan, akan dijadikan sebagai simpanan untuk hari akhir, atau dia akan dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengan doa itu.

ADAB BEROBAT
[Bagian Terakhir]

 

Berikut tulisan terakhir dari adab berobat. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Baarokallahu fiikum.  

◆ [9]. BERADA DI ANTARA RASA HARAP & TAKUT

Pada hadis Anas radhiyallahu 'anhu disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ: كَيْفَ تَجِدُكَ ؟ قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أَنِّيْ أَرْجُوْ اللَّهَ وَإِنِّيْ أَخَافُ ذُنُوْبِيْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُوْ وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menemui seorang pemuda yang hampir meninggal dunia. Lalu beliau bertanya: "Bagaimana engkau dapati dirimu?" Ia menjawab: "Demi Allah, ya Rasulullah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah, namun aku takut akan dosa-dosaku."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah dua hal tersebut (rasa harap dan takut) terkumpul pada hati seorang hamba pada kondisi seperti ini, melainkan Allah akan beri apa yang ia harapkan dan Dia curahkan keamanan dari apa yang ia takuti". (Hadis hasan riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dll. Lihat kitab al-Misykat, no. 1612)

◆ [10]. LARANGAN MEMINTA KEMATIAN

Dari Ummul Fadhl, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah masuk menemui al-Abbas yang sedang mengeluhkan (suatu penyakit), lalu ia berharap kematian. Maka itu beliau berkata kepadanya:

يَا عَمُّ! لاَ تَتَمَنَّ الْمَوْتَ، فَإِنَّكَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا، فَأَنْ تُؤَخَّرْ تَزْدَدْ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ، خَيْرٌ لَكَ، وَإِنْ كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَنْ تُؤَخَّرْ فَتَسْتَعْتِبْ مِنْ إِسَائَتِكَ، خَيْرٌ لَكَ، فَلاَ تَتَمَنَّ الْمَوْتَ

Wahai paman! Janganlah engkau mengharap kematian. Sebab, bila selama ini engkau berbuat baik, kemudian (umurmu) ditangguhkan, maka itu adalah kebaikan yang akan ditambahkan kepada kebaikanmu dulu, dan itu baik bagimu. Dan bila selama ini engkau berbuat tidak baik, kemudian (umurmu) ditangguhkan, lalu engkau diberi kesempatan untuk bertaubat dari kesalahanmu, maka itu baik pula bagimu. Maka, janganlah engkau mengharap kematian. (HR. Ahmad, Abu Ya'la, dan al-Hakim. Al-Hakim berkata: Shahih sesuai persyaratan al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati adz-Dzahabi. Syaikh al-Albani berkata: Hadis ini hanya sesuai dengan persyaratan al-Bukhari saja)

• Bila Harus Memilih

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِيْ وَتَوَفَّنِيْ إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِيْ

Janganlah sekali-kali seorang dari kalian mengharap kematian lantaran musibah yang menimpanya. Namun bila memang harus melakukannya maka hendaklah ia berkata: "Ya Allah, biarkanlah aku hidup bila hidup ini lebih baik bagiku, dan cabutlah nyawaku bila ternyata kematian lebih baik bagiku." (HR. al-Bukhari & Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: Hadis ini dengan jelas mengandung larangan meminta kematian karena suatu bahaya yang menimpanya, baik berupa penyakit, musibah, kemiskinan, ancaman dari musuh dan hal lain dari beban-beban dunia. Adapun bila ia khawatir dari sesuatu yang dapat membahayakan agamanya atau fitnah pada agamanya, maka meminta kematian dalam kondisi seperti ini tidak dibenci dengan dasar hadis ini dan yang lain. Sebagian ulama salafpun ada yang melakukannya ketika mereka khawatir fitnah menimpa agamanya. (ShahihMuslim bi Syarh an-Nawawi, jilid 17, hlm. 7-8, cet. al-Mathba'ah al-Mishriyyah bi al-Azhar)

• Sebuah Kisah

Di antara contoh seputar hal ini adalah sebuah kisah yang terjadi pada Yazid bin al-Aswad rahimahullah.

Abu Zur'ah Yahya bin Abu 'Amr berkata: "Adh-Dhahhak bin Qais dan orang-orang pernah keluar untuk mengerjakan shalat Istisqa' (minta hujan). Namun hujan tidak juga kunjung datang kepada mereka, bahkan awan mendungpun tidak terlihat."

Adh-Dhahhak berkata: "Dimanakah Yazid bin al-Aswad?" (Dalam sebuah riwayat disebutkan: Namun tidak seorangpun yang menjawabnya. Sehingga ia mengangkat suara lagi: "Dimanakah Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi? Aku harap ia berdiri bila mendengar seruanku.")

Maka Ia (Yazid) berkata: "Saya disini." Adh-Dhahhak berkata: "Berdirilah! Dan mintalah kepada Allah untuk menurunkan hujan untuk kita."

Yazid pun berdiri. Lalu ia menundukkan kepalanya dan mengangkat kedua lengannya seraya berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu meminta syafa'at kepada-Mu dengan perantaraku."

Setelah ia berdoa sebanyak tiga kali, seketika itu juga hujan turun kepada mereka hingga sampai-sampai mereka hampir tenggelam karenanya.

Kemudian Yazid berkata: "Sesungguhnya hal ini telah membuatku terkenal, maka itu istirahatkanlah aku dari hal ini."

Waktu baru berlalu satu pekan, ternyata Yazid sudah tiada. (Sittu Duror min Ushul Ahli al-Atsar, Abdul Malik Romadhoni, hlm. 47)

◆ [11]. BERTAWAKAL HANYA KEPADA ALLAH

Setelah usaha tersebut dilakukan, tinggal tersisa satu hal yang harus ia perhatikan. Yaitu hendaklah ia bertawakal hanya kepada Allah semata. Artinya ia menyerahkan segalanya hanya kepada Allah semata.

Bila ia sembuh hendaklah banyak-banyak memuji Allah azza wa jalla. Bila belum sembuh juga, hendaklah ia berhusnudzon kepada Allah. Karena banyak sekali hikmah dari penyakit yang dideritanya, baik ia ketahui maupun tidak. Maka itu, bertawakal adalah solusi terbaik setelah ikhtiyar dan doa.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. Ali Imron: 122)

Firman-Nya:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri. (QS. Ibrohim: 12)

Semoga kita dihindarkan dari segala macam penyakit. Bila itu memang harus terjadi, semoga Allah memberikan kesabaran dan keteguhan kepada diri kita. Tak lupa kita memohon kepada Allah agar diberikan pahala yang melimpah dari cobaan tersebut. Wa billahi at-taufiq.

 

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
+966556288679

Selasa, 03 Februari 2015

IBADAH NON MUSLIM

IBADAH NON MUSLIM

Ibadah yang dikerjakan non muslim seperti sedekah, silaturahmi, berbuat baik kepada teman dan tetangga, berbakti kepada kedua orang tua, jujur dalam berkata dan amalan baik lainnya, semua itu tidak diterima dan tidak berbuah pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. 

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa seorang yang beramal saleh akan mendapatkan balasan kehidupan yang baik apabila ia dalam keadaan beriman. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ.

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yag lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)
Ulama menjelaskan bahwa syarat diterimanya ibadah ada tiga: Beriman, Ikhlas lillahi ta’ala dan Ittiba’ (sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam)

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, Ibnu Jud'an pada masa Jahiliyah dahulu menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin, apakah amalan tersebut bermanfaat baginya?

Beliau menjawab:

لاَ يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّينِ.

Semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebab ia tidak pernah berkata dalam harinya: Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan. (HR. Muslim
)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis di atas: 

مَعْنَى هَذَا الْحَدِيْثِ: أَنَّ مَا كَانَ يَفْعَلُهُ مِنَ الصِّلَةِ وَاْلإِطْعَامِ وَوُجُوْهِ الْمَكَارِمِ لاَ يَنْفَعهُ فِيْ اْلآخِرَة؛ لِكَوْنِهِ كَافِرًا.

Makna hadis ini, bahwa apa yang telah ia kerjakan, seperti menyambung silaturahmi, memberi makan dan perbuatan mulia lainnya tidak akan bermanfaat baginya di akhirat, sebab kondisinya kafir.

Beliau rahimahullah melanjutkan:

وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( لَمْ يَقُلْ رَبّ اِغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ) أَيْ لَمْ يَكُنْ مُصَدِّقًا بِالْبَعْثِ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْ بِهِ كَافِرٌ وَلاَ يَنْفَعهُ عَمَلٌ. قَالَ الْقَاضِي عِيَاض رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى: وَقَدِ انْعَقَدَ اْلإِجْمَاعٌ عَلَى أَنَّ الْكُفَّارَ لاَ تَنْفَعُهُمْ أَعْمَالُهُمْ. 

Inilah makna sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: “Sebab ia tidak pernah berkata dalam harinya: Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan.” Yakni, ia tidak membenarkan adanya kebangkitan, dan barang siapa yang tidak membenarkan adanya kebangkitan maka ia kafir dan amalannya tidak bermanfaat baginya. al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan: “Telah terjadi ijmak (kesepakatan) bahwa orang-orang kafir, amalan mereka tidak bermanfaat bagi diri mereka. (Syarh an-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim)

■ KEADILAN ALLAH TA'ALA

Meskipun demikian, Allah ta’ala adalah Maha Adil. Dia memberikan rezeki kepada siapa saja; yang muslim dan yang kafir. Dia ar-Rahman (Maha Luas Rahmat-Nya), dan rahmat Allah terlimpahkan kepada muslim dan non muslim. Hanya saja, non muslim hanya mendapatkannya ketika di dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي اْلآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِيِ الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ.

Sesungguhnya seorang kafir bila ia melakukan kebaikan, maka dengannya ia diberi rezeki makanan di dunia. Adapun seorang mukmin, maka sesungguhnya Allah menyimpan baginya kebaikan-kebaikannya di akhirat, dengan tetap memberikan rezeki kepadanya di dunia oleh sebab ketaatannya. (HR. Muslim)

■ BILA KAFIR MASUK ISLAM

Apabila ada seorang kafir yang masuk Islam, maka kebaikan yang pernah ia kerjakan ketika kafir akan berubah menjadi kebaikan.
Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan: 

عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ )).

Dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari Halim bin Hizam radhiyallahu 'anhu ia berkata: “Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah! bagaimana menurutmu, berbagai kebaikan yang aku dahulu kerjakan pada masa Jahiliyah, seperti sedekah, memerdekakan budak dan menyambung silaturahmi, apakah ada pahalanya? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Engkau masuk Islam dengan membawa kebaikan yang telah dikerjakan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah menuturkan:
وَذَهَبَ اِبْن بَطَّالٍ وَغَيْرُهُ مِنَ الْمُحَقِّقِيْنَ إِلَى أَنَّ الْحَدِيْثَ عَلَى ظَاهِره، وَأَنَّهُ إِذَا أَسْلَمَ الْكَافِرُ وَمَاتَ عَلَى اْلإِسْلاَمِ يُثَابُ عَلَى مَا فَعَلَهُ مِنَ الْخَيْرِ فِي حَالِ الْكُفْرِ.

Ibnu Batthal dan ulama yang telah meneliti masalah ini berpendapat bahwa hadis tersebut sesuai dengan zahirnya, yakni bahwasanya apabila seorang kafir masuk Islam dan meninggal dunia dalam keadaan muslim, maka ia diberikan pahala atas kebaikan yang pernah ia kerjakan dalam kondisi kafir dahulu. (Syarh an-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim)

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi kita. Dan semoga kita dimudahkan mewujudkan syarat-syarat diterimanya ibadah. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
+966556288679

MANUSIA SUPER...

Manusia Super .
Pernahkah mendengar tentang manusia super?

Mempunyai kekuatan di luar batas?

Mampu terbang, berlari sangat cepat, berkekuatan baja dan berotot besi?

Mari kita kupas beberapa manusia super ditinjau dari Al Quran dan Hadits:

1. SEORANG MAMPU MENAHAN AMARAH MESKIPUN IA MAMPU MELAMPIASKANNYA:

(وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ) [آل عمران:133، 134].

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." QS. Ali Imran: 133-134

عن معاذ بن أنس، رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ ". أخرجه أحمد (15637) والترمذي (2021) وقال حسن غريب، وأبو داود (4777) وابن ماجة (4186)

Artinya: "Mu'adz bin Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, nisacaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk sampai dipilihkan untuknya dari bidadari yang ia kehendaki." HR. Ahmad (15637), At Tirmidzi (2021) ia berkata: "Hasan Gharib", Abu Daud (4777) dan Ibnu Majah (4186).

عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: " لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. رواه البخاري (5763)، ومسلم (2609).

Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah orang yang kuat yang (menang) bergulat, sesungguhnya yang kuat adalah seorang yang mampu menahan dirinya tatkala marah." HR. Bukhari (5763) dan Muslim (2609).

2. SEORANG MAMPU MENGAKUI KESALAHAN DAN KEMBALI KEPADA KEBENARAN MESKIPUN IA ORANG TERPANDANG.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: "Keduanya berkata: "Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." QS. Al A'raf: 23.
ayat ini menceritakan pengakuan Nabi Adam akan kesalahan beliau dan kembalinya beliau kepada Allah.

وقال عمر بن الخطاب في رسالته إلى أبي موسى الأشعري في القضاء وآدابه :" لا يمنعك قضاء قضيته بالأمس راجعت فيه نفسك وهديت فيه لرشدك أن تراجع الحق فإن الحق قديم وإن الحق لا يبطله شيء ومراجعة الحق خير من التمادي في الباطل".

Artinya: "Umar bin Khaththab di dalam suratnya kepada Abu Musa Al Asy'ari di dalam keputusannya berkata: "Janganlah keputusan yang telah engkau putuskan kemarin, lalu dirimu mengoreksinya dan kamu telah diberikan petunjuk kepada kesadaranmu, hal itu menahanmu untuk kembali kepada kebenaran, sesungguhnya kebenaran itu abadi dan sesungguhnya kebenaran tidak ada sesuatu pun yang membatalkannya dan KEMBALI KEPADA KEBENARAN LEBIH BAIK DARIPADA TERUS MENERUS DI DALAM KEBATILAN."

3. SEORANG MAMPU MENERIMA NASEHAT MESKIPUN PAHIT DAN MESKIPUN DARI SEORANG YANG DIANGGAP BAWAHAN

﴿ وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ﴾ [البقرة: 206]

Artinya: "Dan jika dikatakan kepadanya takutlah kepada Allah, niscaya tumbuh darinya kesombongan untuk melakukan dosa." QS. Al Baqarah: 206.

يقول عبدُ الله بن مسعود - رضي الله عنه -: "كفَى بالمرء إثمًا أن يقول له أخوه: اتَّقِ الله. فيقولُ: عليك بنفسِك، مثلُك يُوصِيني!".

Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Cukup seseorang dikatakan sebagai orang yang berdosa, saudaranya menasehatinya: "Takutlah kepada Allah", malah ia menjawab: "Urus dirimu sendiri, (tidak pantas) seperti dirimu menasehatiku."

قال الإمام الشافعي - رحمه الله تعالى -: "ما نصحتُ أحدًا فقبِلَ مني إلا هِبتُه واعتقدتُّ مودَّتَه، ولا ردَّ أحدٌ عليَّ النصحَ إلا سقطَ من عيني، ورفضتُه".

Artinya: "Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata: "Tidaklah aku menasehati seseorang lalu ia menerimanya dariku melainkan aku akan menghargainya dan sangat mencintainya, dan tidaklah seseorang menolak nasehatku melainkan jatuh dirinya dari kedua mataku (tidak menghargainya) dan aku membencinya."



4. SEORANG MAMPU SABAR MENAHAN MUSIBAH YANG DI DAPATINYA

عَنْ عَطَاءِ بْن أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاس:ٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ ؟ قُلْتُ: بَلَى ، قَال:َ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاء،ُ أَتَتْ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي. قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ »، فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، « فَدَعَا لَهَا ». متفق عليه

Artinya: "Atha' bin Abi Rabah rahimahullah berkata: "Berkata kepadaku Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: " Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?", aku menjawab: "Iya tentu", Ibnu Abbas berkata: "Ia lah wanita berkulit hitam itu, ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Sungguh aku sering kesurupan, dan sungguh aku sering tersingkap aurat, berdoalah kepadaku untukku?", beliau menjawab: "Jika kamu ingin bersabar niscaya bagi surga, dan jika kamu ingin aku berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu", wanita tersebut berkata: "Aku bersabar, tetapi aku sering terbuka aurat, maka berdoalah kepada Allah agar aku tidak tersingkap aurat", lalu Nabi mendoakannya." muttafaqun 'alaihi.

5. SEORANG MAMPU MENAHAN DIRI TIDAK BERMAKSIAT PADAHAL IA MAMPU DAN PUNYA KESEMPATAN

عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (( سَبْعَة يظِلُّهمُ الله في ظِلِّهِ يوم لا ظِلَّ إلا ظِله ....ورجل دَعَتْهُ امرأة ذاتُ مَنْصِب وجمال، فقال: إني أخافُ الله)). رواه البخاري ومسلم

Artinya: "Abu Hurairah. radhiyallahu 'anhu Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam berkata: "Tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah di dalam naungannua pada haro tidak ada naungan kecuali naungan-Nya..., dan seorang lelaki yang diajak oleh seorang wanita mempunyai kedudukan dan kecantikan, lelaki tersebut berkata: "Sungguh aku takut kepada Allah." HR. Bukhari dan Muslim.

6. SEORANG MAMPU MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG LAIN PADAHAL IA MAMPU UNTUK MEMBALASNYA.

﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِالْجَاهِلِينَ﴾ (199) سورة الأعراف

Artinya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."

﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُلَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾ (22)سورة النور

Artinya: "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." QS. An Nuur: 22.

Ayat ini turun tentang Abu Bakar yang diperintahkan untuk memaafkan sebagian orang beriman yang ikut membicarakan berita dusta, tentang Aisyah radhiyallahu 'anha. Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhupun memaafkan mereka karena lebih menginginkan ampunan Allah Ta'ala.
 Dan akhlak belaiu contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tatkala penaklukan kota Mekkah, beliau berkata kepada kaum Quraisy yang dahulu menyiksa beliau dan bahkan hendak membunuh beliau sampai akhirnya beliau berhijrah ke kota Madinah, sampai beliau sanggup menaklukkan kota Mekkah, Tapi beliau tidak membalasnya.


Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Masjidil Haram Mekkah, Senin, 3 Rabi'uts Tsani 1436H

Senin, 02 Februari 2015

WANITA INI TIDAK PANTAS JADI ISTRIMU...!!!

Wanita ini Tidak Pantas Jadi Istrimu!

Pengumuman!
Ditujukan kepada semua lelaki yang mendambakan seorang istri yang;
- Shalihah (Wanita yang shalihah)
- Qurratu 'ain ( Wanita yang menyejukkan mata dan jiwa)
- Thayyibah ( Wanita yang baik)

KETAUHILAH! bahwa wanita di bawah ini jauh dari kriteria di atas dan tidak pantas menjadi istrimu!
  • wanita yang tidak mempunyai iman/agama/tidak pintar agama; akidahnya rusak, tdk dapat membaca Al Quran, bodoh tentang hukum bersuci, shalat dan puasa.
  • wanita yang tidak ahli ibadah; tidak atau sering terlambat sholat wajib.
  • wanita yang tidak menjaga kesucian dan rasa malu; sebelum menikah sudah berani melakukan hubungan terlarang/PACARAN dengan lelaki bukan mahram baik via sms, telpon, chating yang terlalu berlebihan atau ketemu langsung.
  • wanita yang tidak mempunyai akhlak dan buruk kelakuan; sering buka aurat, suka berbicara dengan lelaki yang bukan mahram.
  • wanita yang berasal dari keluarga yang buruk
  • wanita yang mandul
  • wanita yag sangat buruk rupanya

... فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ...

Artinya: "....Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (ketidak taatannya)...". QS. An Nisa: 34.

عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

Artinya: "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." QS. At Tahrim: 5.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." QS. An Nur: 26.

( تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ ) رواه النسائي ( 3227 ) وأبو داود ( 2050 ) .

Artinya: "Nikahilah wanita yang pecinta dan banyak melahirkan anak, sesungguhnya aku berbangga dihadaoan umat-umat lain dengan jumlah kalian yang banyak." HR. An nasai (3227) dan Abu Daud (2050).

( تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) .رواه البخاري (4802) ومسلم (1466)

Artinya: "Wanita dinikahi dengan sebab empat perkara: sebab hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, maka dahulukanlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan beruntung." HR. Bukhari (4802) dan Muslim (1466).

JANGAN HANYA TERTIPU DENGAN PENAMPILAN KAWAN!
‪#‎BeSmartMan‬

======================================================================

WANITA INI TIDAK PANTAS UNTUK DIJADIKAN ISTRIMU! - EDISI REVIEW
 

Tentang Status Sebelumnya:

  • Itu adalah nasehat bagi yang ingin menikah, yaitu mencari wanita yang pintar agama, tdk sangat buruk rupa dan tdk mandul.
  •  adapun bagi yang sudah menikah dengan wanita yang tidak pintar agama maka hendaklah berusaha mendidik dan merubahnya menjadi pintar agama dan semoga nasehat tersebut bermanfaat.
  • adapun yang sudah menikah yang belum ditakdirkan dapat anak, maka teruslah berusaha dan berdoa. semoga mendapat keturunan yag penuh berkah.
  • adapun permasalahan menikah dengan wanita yang sangat buruk rupa maka:                    
1. bukankah setiap lelaki menginginkan wanita yang cantik atau minimal tidak buruk rupa.
2. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan bahwa wanita dinikahi salah satunya karena kecantikannya
3. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk melihat wanita sebelum menikahinya, dan tidak mungkin yang dilihat kecuali kecantikannya dan rupanya.
 

JADI, status sebelum ini sebenarnya mengajak, menasehati para wanita:
- agar meningkatkan keilmuan agama untuk keperluan mendidik anak-anaknya dan keluarga
- agar menjaga kecantikan sehingga menimbulkan sakinah dan mawaddah serta rahmah bagi suami yang menikahinya.
Dana mengajak para lelaki mencari istri yang MEMANG PANTAS UNTUK DIJADIKAN ISTRI!


‪#‎BeSmartMan‬


Sumber Fb Ustadz Ahmad Zainuddin, LC 

Rabu, 28 Januari 2015

PERBANYAKLAH DOA KEPADA ALLAH

PERBANYAKLAH DOA KEPADA ALLAH

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa doa adalah ibadah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
Doa adalah ibadah. (Hadis sahih riwayat at-Tirmidzi)
Berbicara tentang keutamaan doa, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ.
Tidak ada sesuatu apapun yang lebih mulia bagi Allah dari pada doa. (Hadis hasan riwayat Ahmad)
Bila demikian, hendaknya kita berusaha memperbanyak doa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Hendaknya kita tidak cepat puas dengan doa yang sudah kita panjatkan. Teruslah menambah dan membiasakannya pada setiap hari kita.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu mengatakan:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلاَثاً، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلاَثاً.
“Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdoa maka beliau mengulanginya sebanyak tiga kali dan apabila memohon maka beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.” (Lihat: al-Bahr ar-Raa-iq, Ahmad Farid, hal. 113)
Seorang yang memperbanyak doa semakin dicintai oleh Allah. Sebaliknya, bila ia meninggalkan doa, maka ini menjadi sebab murka Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ.
Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah (berdoa) kepada-Ku mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghafir/al-Mukmin: 60)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ.
Barang siapa tidak memohon (berdoa) kepada Allah, maka Allah murka kepadanya. (Hadis sahih riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Seorang penyair bersenandung:
لاَ تَسْـأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَـاجَةً وَسَلِ الَّذِيْ أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ
اللَّهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَإِذَا سَأَلْتَ بُنَيَّ آدَمَ يَغْضَبُ
Sekali-kali janganlah engkau memohon hajat kepada manusia
Memohonlah kepada Dzat yang pintu-Nya senantiasa terbuka
Allah akan marah bila engkau meninggalkan doa kepada-Nya
Sedang manusia akan marah bila kau terus meminta kepadanya
Maka itu, teruslah memperbanyak doa kepada Allah. Semoga Allah mengabulkan doa-doa baik kita semua. Aamiin.

Bagian Indonesia
ICC DAMMAM KSA
+966556288679